Tampilkan postingan dengan label Cerita Karangan Naruto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Karangan Naruto. Tampilkan semua postingan

Fuzzy Memory VII

CHAPTER 7
.
Naruto's PoV
Aku bersyukur bahwa aku melihat sosok Sasuke ada di mejanya sesampainya aku di sekolah. Kupikir dengan wajah sekeruh tadi dia bakal kabur dan membolos. Tapi sepertinya tampangnya biasa-biasa saja sekarang. Tampang sok cool yang menyebalkan. Setidaknya bagi ketiga sahabatku yang masih tetap tak menyukainya.
"Oi, Naruto! Telat!" sapa Neji saat aku berdiri dihadapannya yang duduk di meja paling depan dekat pintu.
"Hehe! Untung jam pertama Kakashi, ya! Dia kan datangnya lebih telat lagi!" jawabku sambil menggaruk belakang kepala. Aku tak tahu kenapa wajah Neji jadi aneh. Juga teman-temanku yang lain. Tapi aku lekas sadar bahwa aku dalam bahaya begitu tengkukku merinding. Saat berbalik, aku harus menerima deathglare dari satu mata yang menusuk.
"Huwaaa!" aku langsung berlari ke mejaku dengan rusuh tingkat tinggi, membuat anak-anak yang lain malah tertawa terbahak-bahak. Dengan santai Kakashi menyusul dan sudah bertengger di tempatnya. Aku bersyukur dia tidak memperpanjang masalah. Mungkin karena dia sadar diri juga kali, ya?
XXX
Seperti hari-hari biasa di sekolah, lagi-lagi meja Sasuke dipenuhi anak-anak cewek berisik. Biar sajalah. Lagipula, masa Sasuke yang digandrungi cewek saja jadi urusanku. Ih! Rajin sekali aku memikirkan orang! Lebih baik aku…ngapain ya?
"Oi, Naruto!" cepat sekali Neji, Gaara, dan Shika kembali dari kantin? Begitu pikirku. Tapi saat aku menoleh…
Mataku terbelalak, mulutku terbuka, dan napasku kembang kempis. Mungkin tampangku seperti ikan mas yang baru dikeluarkan dari air kali, ya? Habis…yang memanggilku ini Sasuke, lho!
"I, iya?" jawabku ragu.
"Ayo! Aku mau bicara!" katanya.
"KYAAA SASUKEEE! KAU MAU KEMANA? ADA URUSAN APA DENGAN NARUTOOO?" anak-anak cewek yang semula mengerubungi mejanya sudah mulai berisik dimejaku dan mereka sepakat menghadiahiku tatapan membunuh karena menjadi pengganggu.
"Diam! Berisik! Jangan ganggu aku!" Sasuke melepaskan diri dari Ino dan Sakura, dua gadis paling memujanya yang sejak tadi bergelantungan di lengan Sasuke. Aku menatap Sakura, anak perempuan yang dulu pernah kusukai. Dulu? Ya! Buktinya sekarang aku tak cemburu karena dia lebih memilih Sasuke. Padahal aku panas setengah mati waktu dia didekati Rock Lee. Kakak kelas kami. Kenapa, ya?
Oke, katakan aku tak normal. Aku memang gila! Sinting! Karena sekarang aku malah cemburu pada Sakura. Aku tak suka dia bergelantung di lengan Sasuke. Aku tak suka melihat kulit mereka bersentuhan. Ah, aku memang abnormal!
Begitu tersadar, ternyata Sasuke sudah tak ada. Aku segera menyusulnya keluar kelas. Dia tak ada. Duuh, dia kemana, ya?
Aku tak tahu kemana kaki membawaku. Yang jelas aku hanya ingin menemukan si rambut jabrik itu secepatnya. Dia mau ngomong apa? Tak kupedulikan panggilan Gaara yang mengacung-acungkan bungkusan ramen pesananku. Tapi untung saja aku sempat menjawab 'Nanti saja! Kembali saja ke kelas duluan!'. Kalau tidak, mereka pasti akan mengejarku.
Entah kenapa aku berlari kesini. Taman belakang. Entahlah. Disini pertama kalinya aku berurusan dengan Sasuke dan instingku bilang bahwa urusan apapun yang menyangkut dengannya di sekolah, maka tempatnya adalah disini.
Benar saja. Aku mendapati dirinya tengah duduk sendirian dibawah pohon yang…euh! Memalukan! Walau begitu kuhampiri dirinya. Saat berjalan lambat mendekatinya, kulemparkan pandangan ke sekitar. Tak ada siswa yang hobi makan siang di taman. Heran. Padahal tempat ini juga asyik. Yah, meskipun aku juga lebih suka diatap, sih.
"Ada apa?" tanyaku saat aku sudah sampai kesisinya. Dia mendongak dan ber-'Hn' dengan suaranya yang khas kemudian kembali menunduk.
"Kau tahu aku disini?" tanyanya tanpa melihatku.
"Entahlah. Kakiku yang membawaku kesini," jawabku sambil mengambil duduk di tempatku tadi berdiri. "Ada apa?"
Aku tahu dia sedang memandangku. Makanya aku tak berani menoleh padanya. Mau jadi apa aku jika harus selalu tertangkap basah blushing kalau diperhatikan oleh dia? Oke, itu tak penting.
"Yang tadi pagi…kau tak perlu memikirkannya. Itu bukan urusanmu sama sekali," ujarnya.
"Aku tahu. Tapi…apa aku boleh tahu bagaimana denganmu?" tanyaku sambil memberanikan diri menoleh. Dia nampak terkejut.
"Um, ng…maksudku…apa kau tak merasa…sedih? Oke, itu bukan urusanku sama sekali! Aku bakalan berhenti bertanya!"
"Hn"
.
Sasuke's PoV
"Um, ng…maksudku…apa kau tak merasa…sedih? Oke, itu bukan urusanku sama sekali! Aku bakalan berhenti bertanya!"
"Hn"
Sedih, ya? Hm, ayahmu memanggilmu bukan dengan namamu dan aku tak sedih? Kurasa hanya orang gila yang seperti itu dan itu…tentu saja bukan aku.
Kuhirup udara disekitarku dengan rakus. Menampungnya banyak-banyak di paru-paru sebelum melepasnya seraya menyandarkan kepala di batang pohon besar di belakangku. Rasanya pohon ini lebih terasa seperti pelindung dibandingkan ayah. Hh, jadi memikirkan yang tidak-tidak.
.
Flashback
"Anakku memang hebat!" langkahku terhenti saat mendengar kata-kata itu dari arah ruang keluarga. Suara ayah. Dan tentu saja yang dimaksud dengan anaknya yang hebat adalah Itachi, bukan? Siapa lagi? Tapi aku tak mendengar suara Itachi atau siapapun bersamanya. Atau paling tidak menimpali ucapannya. Entahlah. Aku kan tak bisa melihat.
Suara langkah kaki menyapa telingaku dan semakin mendekat. Aku merapatkan diri ke dinding. Langkah itu terhenti di depanku dan aku bisa merasakan tatapan tajam dari si empunya langkah. Apa aku akan dimarahi karena kedapatan menguping?
Tak lama kemudian, si pemilik langkah itu pun melanjutkan perjalanannya lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Aku sedikit sedih. Yah, paling tidak aku ingin dia, ayahku, mengucapkan sepatah dua patah kata padaku walau dalam bentuk makian sekalipun.
"Sasuke! Sedang apa kau?" suara Itachi menyapaku dan aku tahu dari arah mana dia muncul. Arah kiriku. Lho, kalau dia baru saja dari ruang keluarga bersama ayah, harusnya dia muncul dari sebelah kanan, kan?
"Itachi? Bukankah kau tadi ada di ruang keluarga?" tanyaku.
"Ha? Tidak! Aku baru saja memberi makan Yo diluar. Ada apa?" tanyanya balik.
"Ti-tidak! Tidak apa-apa!" aku menggeleng cepat. Yah, walaupun masih penasaran. Jadi…tadi ayah bicara dengan siapa? Bicara sendirian? Dan siapa anak hebat yang dia maksud? Oke, itu sudah pasti Itachi, kan?
End of Flashback
.
"…ke? Sasuke?"
Aku lekas membuka mata dan mengingat kembali bahwa aku masih bersama dia. Naruto.
Bicara mengenai anak ini…entahlah. Aku juga merasa bingung. Kenapa dia begitu memerdulikan aku? Meskipun sedikit menyebalkan karena aku malas berbagi dengan orang lain, tapi disisi lain aku merasa sedikit…hangat.
Aku tak ingat kapan terakhir kalinya ada orang yang begitu memerdulikanku seperti dia. Di Hokkaido pun aku tak punya teman dan tak ada yang berusaha begitu keras untuk jadi temanku seperti dia.
"Naruto, kenapa kau memerdulikan aku?" pertanyaanku yang tiba-tiba membuatnya sedikit terhenyak. Dia hanya ber-um tak jelas. Tak menjelaskan apapun. "Kau pikir 'Um'-mu itu menjelaskan segalanya, Jenius?"
Wajahnya memerah. Seperti biasa. Manis. Tetap tak menjawab apa-apa.
Aku sendiri mulai menelisik setiap inci dari wajahnya. Entah sejak kapan wajah itu terasa sangat akrab. Menghampiri alam bawah sadarku tiba-tiba dan muncul begitu saja bahkan saat seharian aku tak melihatnya. Oke, mungkin aku mulai tak waras karena aku mau bilang bahwa akhir-akhir ini aku sering memikirkannya.
"Aku…um…aah! Aku tak tahu! Ngapain sih kau menanyakan hal yang sulit dijawab?" ujarnya pada akhirnya. Dengan tampang yang benar-benar stress.
"Khu, khu!"
"Iih! Malah tertawa!" dia mendorong bahuku yang berguncang kecil karena tawa yang tertahan.
"Habis…kau lucu. Haha!" aku tak dapat bertahan lebih lama untuk tak tertawa lepas sekarang juga.
"Jahatnya!" dia makin ganas memukul-mukul bahuku dan menggelitik tubuhku.
"Hei! Hei!"
Dan tiba-tiba saja kami berada dalam posisi yang aneh. Aku terbujur di atas rerumputan sementara si Naruto bodoh itu ada di atasku. Masih menggelitikiku hingga dia sadar. Tak lama wajahnya kembali menjadi semerah kepiting rebus. Lebih parah malah. Sekali lagi, teriakan ini beramai-ramai. 'Sasuke sudah tak waras!' karena aku menyukai keadaan kami sekarang.
"Ma-maaf!" Naruto langsung menyingkir dariku.
Sudah kubilang bahwa aku menyukai keadaan kami yang tadi? Ya, sedikit banyak itulah yang membuatku melakukan hal tak terduga ini. Kutarik tangan Naruto hingga kini dia terjerembab di atas tubuhku. Sekali lagi. Dan entah siapa yang memulai, kurasa aku, kami mulai terlibat dalam ciuman panas yang tak biasa.
Tak biasa? Yah, paling tidak ini pertama kalinya aku ciuman dengan cowok juga. Oh! Aku lupa! Aku pernah menciumnya sekali. Tapi rasanya kali ini berbeda. Mungkin karena saat itu aku melakukannya dengan rasa marah dan saat ini…
Entahlah.
Bibir Naruto terasa manis dan tak berpengalaman. Well, berapa banyak gadis yang sudah dia perlakukan begini? Mungkin tak lebih dari dua jari dan masing-masing dari dua gadis itu hanya pernah dia cium sekali. Buktinya dia kewalahan menghadapiku.
Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan surprise saat ciuman kami terlepas. Dengan mulut membuka seperti ikan kehabisan napas, dia langsung panik.
"A-a-apa yang baru saja kau lakukan?" tunjuknya padaku dengan wajah semerah udang dan dada yang naik turun dengan cepat. Aku kembali bangkit untuk duduk.
"Hn"
"Kenapa hanya ngomong begitu? Cepat jelaskan!"
"Bukan aku kan Naruto? Kita. Kau harusnya bertanya 'Apa yang baru saja kita lakukan', kan?"
"A-apa? Jelas-jelas kau yang menciumku duluan!"
"Tapi kau kan bisa melepasnya jika kau tak ingin," jawabanku yang tenang kini membuat Naruto mati kutu. Dia tak lagi menjawab dan menundukkan kepala. Malu.
Keheningan menyelubungi kami untuk sesaat.
"Kenapa Sasuke? Apa yang kali ini pun kau cuma mempermainkanku lagi?" tanyanya.
"Entahlah. Dan kau tak marah lagi seperti kemarin?"
"Kalau ditanya kenapa, mungkin aku akan bilang bahwa aku suka Sasuke!" aku terperanjat. Naruto bilang bahwa dia menyukaiku? Menyukaiku? Apa dia tidak waras?
Ah, lalu apa yang tadi kau lakukan Sasuke? Kau juga sama tak warasnya, kan? Malah mungkin saja kau pun juga menyukainya. Kau bahkan tak pernah setulus ini mencium seorang anak cewek, kan?
"Jadi…apa tadi kau hanya mempermainkanku?" hening. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak tahu kenapa aku jadi terjebak sebegini jauh dengan anak pirang di sampingku ini. Terlalu jauh. Kurasa Itachi pun tak pernah mengharapkan hubungan kami bakalan lebih dari seorang teman jika dia berhasil mengenalkanku dengan Naruto saat kami kecil. Tapi…
"Entahlah!" jawabku.
Naruto menatapku dengan pandangan yang…ah, terluka.
"Jadi begitu?" katanya seraya bangkit. "Kau memang hanya mempermainkanku, Sasuke! Bagaimana kau bisa begitu dingin?"
Setelah berteriak, dia langsung pergi dari sana. Aku hanya bisa menatap punggungnya tapi aku pun bingung pada apa yang aku rasakan. Pada apa yang seharusnya kukatakan dan lakukan padanya. Tapi wajahnya yang terluka tadi…apa dia serius dengan ucapannya? Bahwa dia menyukaiku?
Argh! Sasuke! Apa yang sudah kau lakukan? Kau sudah melukai orang yang…orang yang sedikit banyak telah menolongmu! Bodoh!
Kulayangkan tinjuku di batang pohon belakangku saat bangkit berdiri. Buku jariku sedikit berdarah. Tapi aku tak perduli. Mungkin aku memang pantas mendapatkannya. Dan akupun berjalan menuju kelas kembali.
.
Naruto's PoV
Suara Kurenai-sensei yang sedang menjelaskan tentang Perfect Tense tak ada satupun yang mampir ke telingaku. Yang terngiang-ngiang di telingaku hanyalah suara Sasuke yang terus-terusan mengucapkan 'Entahlah! Entahlah!' dengan cara yang menyebalkan.
'Ugh! Kenapa aku mengatakannya? Kenapa aku bilang bahwa aku suka dia? Sial! Sekarang dia pasti sedang tertawa-tawa dalam hati. Menertawakan ketololanku! Lagipula…'
Tanpa sadar kusentuh kedua belah bibirku dengan ujung-ujung jemariku. Dan cih! Lagi-lagi aku harus dibuat kesal dan malu. Padahal, hal jahat apa sih yang sudah kulakukan padanya? Kenapa dia tak ada puas-puasnya mengerjaiku? Padahal aku serius untuk membantunya. Padahal aku benar-benar perduli padanya.
"Naruto! Apa jawabanmu untuk soal nomor 23?" pertanyaan yang dilempar Kurenai-sensei membuatku gelagapan. Kucari-cari soal nomor 23 dibukuku. I … a woman.
"Ng…jawabannya, I am a woman, Mam!" jawabku. Seketika tawa anak-anak satu kelas meledak. Aku memutar pandangan dengan bingung. Lho? Apa yang salah? Pasangan I itu memang am, kan?
"Naruto! Halaman berapa yang kau buka? Kita sedang mempelajari halaman 106 tentang Perfect Tense! Kau tidak mendengarkanku, ya?" kuperiksa halaman bukuku. Halaman 36. Seketika wajahku memerah menahan malu. Sial! Sial! Sudah dipermalukan secara pribadi oleh si brengsek Sasuke! Sekarang aku dipermalukan seluruh kelas gara-gara memikirkannya.
AAARGHH! Sialnya aku hari iniiii!
"Hihihi! Kau itu kacau sekali! Tapi tumben-tumbenan. Walaupun salah baca, jawabanmu benar juga. Biasanya kan kau itu payah kalau Bahasa Inggris!" Shika bersandar di pundakku. Kedua sahabatku yang lain mengitari meja untuk menungguku memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas. Yang tersisa di kelas hanya kami berempat.
"Memangnya kau pikir aku sebodoh itu?" jawabku sebal.
"Iya. Kalau anak SMU tidak tahu to be-nya I, itu artinya dia lebih bodoh dari anak TK, kan?" timpal Gaara. "Dan biasanya Naruto lebih bodoh dari anak TK!"
"Iih! Kalian ini! Bukannya bersimpati, kek!" ujarku kesal. Tawa mereka malah meledak. Argh!
"Ngomong-ngomong, saat istirahat tadi, sebenarnya kau kemana?" aku menghentikan aksi tanganku yang tengah meresleting tas. Cih! Aku malas membicarakan ini. Walaupun membicarakannya dengan mereka.
"Ada urusan sebentar," jawabku asal.
"Dengan si Uchiha?" pertanyaan Neji membuatku terhenyak. Aku menghadiahinya dengan tatapan 'Kok tahu?' yang kemudian amat sangat kusesalkan. "Ternyata benar, ya? Padahal aku hanya asal tebak. Soalnya dia juga tak ada saat jam istirahat."
"Ha? Benar, Naru? Kau dan dia ada urusan apa, sih?" tanya Gaara.
"Ah, sudahlah! Tak usah dibahas! Aku sedang tak ingin cerita!" elakku. Dan seperti biasa mereka tak memaksa. Hanya saling tatap bertiga dan mengangkat bahu.
"Akhir-akhir ini kau banyak menyembunyikan sesuatu, ya Naruto?" kata Neji sambil meninggalkan mejaku. Kedua sahabatku yang lain menyusulnya.
Ha~h. Benar juga. Sejak berurusan dengan Sasuke, aku jarang cerita pada mereka bertiga. Apalagi yang bisa kuceritakan kecuali tentang si raven itu? Dan masalahku dengan Sasuke…ingin kusimpan sendiri. Lagipula aku tak berhak menceritakan masalah Sasuke pada siapapun. Siapapun.
Sebelum melangkahkan kaki untuk menyusul mereka, aku menyempatkan diri melempar pandangan keluar jendela. Mataku membundar -kurasa- saat melihat sosok yang masih bersandar di pintu gerbang sekolah. Mau apa dia?
"Oi! Naruto! Kau lelet banget! Mau kami tinggal?" Shikamaru melongok ke dalam kelas.
"Iya! Iya!" jawabku sambil segera menyusulnya.
Mendekati gerbang, aku masih melihat sosoknya bersandar santai disana. Sasuke. Saat melihatku, dia menegakkan badan. Apa yang dia tunggu itu…aku? Ah, mana mungkin! Aku mempercepat langkahku, meninggalkan tiga sahabatku untuk secepatnya menghidari Sasuke.
"Naruto!" panggil Sasuke. Aku menghentikan langkahku. Dadaku naik turun dengan cepat secepat jantungku memompa darah dan paru-paruku menyerap oksigen. Mau apa dia?
Tidak! Jangan-jangan dia… Tidak! Jangan disini! Ada Shikamaru dan yang lainnya! Aku tak mau berurusan dengan Sasuke dihadapan mereka. Setelah memantapkan hati, aku mengayunkan kakiku. Berlari cepat-cepat.
"Naruto!" kali ini bukan hanya Sasuke. Ketiga temanku pun menyerukan namaku.
Aku berlari cepat. Aku tak ingin berhenti meskipun paru-paruku mulai kekurangan asupan oksigen. Aku tak mau berhenti karena aku tahu ada seseorang yang mengejarku. Entah Neji. Entah Shika. Entah Gaara. Atau mungkin juga…Sasuke.
"Naruto! Berhenti!" perintah orang di belakangku. Ya, aku tahu siapa dia sekarang. Sasuke.
Aku berhenti berlari. Napasku juga sudah hampir habis. Langkah Sasuke pun sudah tak terdengar lagi. Hanya ada suara terengah-engah kami berdua yang mengambang di jalanan perumahan yang lenggang.
"Ada apa lagi, sih? Kau mau apa lagi?" tanyaku kesal sambil berbalik ke arahnya. "Mau apa lagi? Belum puas mengerjaiku?"
Sasuke terdiam. Dia hanya menyematkan onyx-nya pada saphire-ku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Atmosfir bumi terasa menyesakkan seketika.
"Naruto…," Sasuke membuka suara. Kujawab dengan suara ludah yang tertelan.
"Aku menyukaimu."
Baca Selengkapnya

Fuzzy Memory VI

CHAPTER 6
"…ruto, woi, Naruto!" aku tersentak kaget saat satu tangan yang menyangga daguku ditarik. Padahal aku kan sedang asyik bengong melihat lapangan yang ramai oleh anak-anak yang main bola saat jam istirahat. Kupelototi sang pelaku. Gaara. Neji berdiri di sampingnya. Shikamaru duduk dibangku depanku yang ditinggalkan pemiliknya ke kantin.
"Ada apa, sih?" tanyaku sebal.
"Kau belum cerita bagaimana jadinya yang kemarin. Tapi…sepertinya kau berhasil, ya? Si Uchiha sok cool itu sampai tak sekolah hari ini," lanjut Neji sambil menoleh ke bangku Sasuke yang kosong. Membuatku melakukannya juga. Dan akhirnya…aku merasa bersalah. Lagi.
"Memangnya rencana Shikamaru seampuh itu, ya?" tanya Gaara lagi.
"Hoi, Naruto! Jawab, dong! Gimana tampang Uchiha itu saat kau berhasil mengerjainya?" desak Neji. "Cerita dong ke kami!"
BRAK!
Aku merasa napasku sesak memburu saat kugebrak meja. Bisa kubayangkan alangkah terkejutnya ketiga sahabatku atas ulahku itu. Aku tak peduli. Yang kutahu, kurasakan saat ini adalah…aku tak mau ada yang menjelek-jelekkan Sasuke. Entahlah. Aku tahu apa yang Sasuke putuskan itu tak benar, tapi…aku juga tak bisa menyalahkannya.
Suasana yang aneh. Menekan. Aku tahu sahabat-sahabatku tengah sibuk mencerna apa yang terjadi padaku. Karena itu aku langsung menabrak Gaara yang menghalangi jalanku dan melesat meninggalkan mereka.
Kakiku membawaku berlari ke tempat biasa. Atap sekolah. Keputusan yang bodoh karena ketiga sahabatku bisa langsung menemukanku yang sedang meringkuk memeluk lutut. Ah, beruntungnya aku karena memiliki mereka. Mereka hanya berdiri di sampingku tanpa mengatakan apa-apa. Satu hal yang kubutuhkan. Orang yang bersamaku dan mengerti aku. Mengerti bahwa aku belum mau bicara.
Tapi…siapa yang ada di samping Sasuke? Tak ada. Dia tak punya siapa-siapa.
XXX
Pada akhirnya kakiku melangkah kemari sepulang sekolah. Ke rumah berpagar kayu dengan papan nama Uchiha. Untuk sesaat, aku merasa ingin berbalik. Tapi aku langsung membeku saat pintu kayu itu terbuka. Sasuke.
Dia menatapku heran bercampur sinis. Dia tengah menenteng sebuah ember kayu yang berisi bunga bakung segar. Kusembunyikan karangan bunga forget me not dan poppy yang tadi kubeli dibalik punggung. Okey, konyol sekali meminta maaf pada seorang cowok dengan karangan bunga. Tolol tak terkira. Apa yang tadi kupikirkaaaan? Tukang kembang sialan! Bagaimana aku bisa terbujuk olehnya? Bunga hanya berlaku untuk minta maaf pada perempuaaaan!
Wajahku pasti semerah kepiting rebus. Kuangkat wajah saat mendengar 'Hn' ala Sasuke.
"Apa itu untuk Itachi? Ikutlah! Aku mau ke tempatnya dan ibu," Sasuke menuruni tangga satu persatu dan akhirnya berjalan di depanku. "Aku tak mau menunggu kalau kau lelet!"
Aku langsung berlari kecil mengejarnya. Apa itu tadi? Kenapa Sasuke jadi bersikap baik? Yeah, nggak baik-baik amat, sih! Tapi…dia mengajakku, lho! Dia ngomong denganku! Dan kami pun berjalan beriringan dalam suasana penuh kebisuan ke area pemakaman yang ada di bukit belakang perumahan. Tak kusangka. Ternyata selama ini…Itachi sedekat ini.
Sasuke menghentikan langkahnya di depan makam batu pada baris kedua dari jalan utama. Aku pun ikut berhenti. Sekarang kami berdiri di depan makam atas nama Mikoto Uchiha. Aku langsung tahu bahwa itu ibu Sasuke. Tanggal kematiannya…13 Juni. Hari ini. Jadi…
Sasuke berdoa dengan hikmat di depan pusara ibunya. Kedua tangannya terkatup dan matanya tertutup dengan syahdu. Aku pun melakukan hal yang sama. Semoga arwah wanita dan ibu yang baik ini…diterima oleh Tuhan dan tenang di alam sana.
Saat selesai berdoa, aku nyaris terlonjak saat mendapati Sasuke tengah memperhatikanku. Wajahku…panas. Kualihkan wajahku ke arah yang berlawanan dan seolah tak merasa bersalah atas apa yang diperbuatnya, Sasuke berkonsentrasi kembali pada pusara ibunya.
Diambilnya beberapa tangkai bunga bakung yang ada di ember yang dia bawa dan meletakkannya di hadapan batu nisan ibunya. Diraupnya air dalam ember dengan gayung kayu sebesar kaleng susu kemudian disiramkannya ke batu nisan tersebut.
"Ini pertama kalinya aku kesini setelah masuk SMU. Selama di Hokkaido, aku sama sekali tak pernah ke tempat ini. Apa aku bisa dibilang anak tak tahu diri?" lirih Sasuke. Aku tak menjawab karena aku tahu dia hanya ingin bicara. Bukan mendengar. Lagipula aku tak yakin bahwa dia butuh jawaban. Setidaknya dariku.
"Ayo!" dia berdiri dan mengangkut ember kayunya. Berpindah satu pusara di sebelah kirinya dan kembali berjongkok. Aku mengikutinya dan berjongkok kembali di sebelah kanannya. Tiba-tiba saja napasku terasa berat begitu melihat nama Itachi Uchiha. Padahal…aku sudah menduganya tapi…
Lagi-lagi kudapati Sasuke berdoa dengan khusyuk. Membuatku sadar bahwa aku harus melakukan hal yang sama.
Begitu memejamkan mata dan mengingat kembali sosok Itachi yang kini jelas, aku merasa…sakit. Wajah ramahnya, ajakan berteduh saat pertama kali bertemu, permainan yang kami lakukan, kebaikan hatinya, ah…kenapa orang seperti dia harus pergi secepat ini? Itachi…kau tahu? Semua orang kehilangan dirimu. Dan Sasuke…dia masih membutuhkanmu.
.
Flashback
"Naruto, sebenarnya ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu," aku yang tengah mencoba menangkap ekor Yo yang berkibas dengan cepat, mendongak ke sosok Itachi yang menjulang dengan tatapan penuh tanya.
"Dia itu pendiam. Saat ini dia hanya akrab denganku seorang. Kuharap, suatu saat nanti kalian berdua juga bisa akrab dan bersahabat. Aku mempercayakan dia padamu, Naruto…" mempercayakan? Hal macam apa itu? Karena tak begitu mengerti, aku hanya menjawab dengan 'Ya' sekenanya. Lagipula…apa ruginya menambah teman? Apalagi kalau dia akrab juga dengan Itachi.
"Siapa?" tanyaku yang mulai penasaran.
"Rahasia. Nanti akan kukenalkan. Kau pasti akan menyukainya," ujar Itachi sambil memasang telunjuknya secara vertikal di bibirnya.
End of Flashback
.
Dan kutahu kini bahwa yang dimaksudkan olehnya adalah…
Aku membuka mata, menoleh ke arah Sasuke yang kini tercenung memandangi nisan kakaknya. Wajahnya terlihat pedih. Apa? Apa yang dia pikirkan?
"Aku kaget lho karena kau mau mengajakku kemari!" bukaku sambil meletakkan rangkaian bunga yang sejak tadi kubawa di depan pusara Itachi.
"Hn," jawab Sasuke sambil meraup semua bakung yang tersisa di ember dan melakukan hal yang sama dengan apa yang baru saja kulakukan.
"Jujur, aku bertanya-tanya sejak tadi. Kenapa kau tidak sekolah? Apa kau masih marah padaku? Atau jangan-jangan kau melakukan sesuatu yang bodoh setelah kejadian kemarin? Tapi dua-duanya tak terbukti. Kau malah mengajakku kemari dan bicara duluan. Terus…kau juga masih nongol dihadapanku dengan keadaan baik-baik saja. Jadi…kenapa tidak sekolah?"
"Kalau pikirmu aku bakal bunuh diri karena kemarin, harusnya sudah kulakukan sejak dulu. Sekolah? Hari ini aku hanya ingin mengenang mereka berdua," jawabnya lirih. Aku membelalak. Tak kusangka dia akan menanggapi omonganku. Jadi speechless.
"Aku tak bisa melakukan apa-apa. Rasanya seperti dikutuk. Kalau aku ingin mengikuti egoku, aku pasti sudah mengakhiri hidupku sejak dulu-dulu. Aku telah menyebabkan ibu dan kakak meninggal. Orang-orang yang justru paling menguatkanku. Tapi aku menanggung beban untuk tetap hidup. Aku harus hidup untuk kelangsungan eksistensi Itachi. Lewat mataku. Dan kedua fakta itu sungguh membuatku tertekan. Heh, kalau aku bilang begitu kau juga tak akan mengerti, kan?" lirihnya lagi.
Mata Sasuke membuka lebar bagai kerang yang kini memperlihatkan mutiara hitam berkilau saat kedua tanganku membingkai wajah mulusnya. Tak peduli akan ditampar setelah ini atau apalah, aku memaksanya menghadap kearahku.
"Jangan menyalahkan diri! Kenapa menyalahkan dirimu sendiri? Kenapa berpikir bahwa kau yang menyebabkan mereka meninggal? Mereka meninggal karena kecelakaan, Sasuke!" teriakku emosi. Aku tahu ini bukanlah hal yang pantas dilakukan di pemakaman, tapi aku juga tak bisa berdiam diri.
"Iya! Dan seandainya aku tak merengek-rengek pada ibu untuk membawa Itachi ke rumah sakit, kecelakaan itu tak akan pernah terjadi, bodoh! Karena itulah semuanya salahku!" Sasuke menepis tanganku yang masih betah bertengger di wajahnya dengan nada suara kesal. Tangannya yang menepisku langsung kutangkap dan itu membuat Sasuke menggeram marah kearahku. Tapi aku tak peduli.
"Itu artinya kau juga menyalahkan mereka atas semua penderitaanmu. Begitu, kan? Kau menyalahkan Itachi yang memberimu mata itu. Yang membuatmu 'terpaksa' menjalani hidup hanya untuknya! Kau juga menyalahkan ibu dan kakakmu yang begitu mencintaimu sampai rela menjengukmu walau dalam keadaan lelah? Begitu? Akuilah Sasuke! Akuilah bahwa kau menyalahkan mereka berdua! Bukankah saat ini buatmu akan lebih baik jika kau yang mati saja! Iya, kan?"
Sasuke terbengong-bengong menatapku. Mataku…kabur. Bisa kurasakan air berkumpul di mataku dan siap membludak kapan saja.
"Mereka mencintaimu, Sasuke. Mereka peduli padamu. Apa yang mereka lakukan, ibumu yang menjengukmu dalam keadaan lelah, Itachi yang memberikan matanya, itu semua mereka lakukan karena mereka menyayangimu! Tak terbersit sedikitpun dalam pikiran mereka bahwa kau akan menderita seperti ini. Mereka pasti ingin melihatmu bahagia. Jadi…tolong berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Please…"
"Naru…to?" aku melepaskan tangannya dan mulai menutup mataku dengan lengan. Sial! Sial! Kenapa aku malah menangis? Kenapa aku cengeng sekali? Kenapa juga aku harus peduli pada anak egois dihadapanku ini? Kenapa-
Aku mengangkat wajahku kembali saat mendegar Sasuke menghela napas panjang. Tak lama mata onyx-nya terpancang di mata saphire-ku.
"Thanks!" ujarnya singkat. Aku menyeka mataku yang basah dengan punggung tangan. Sialan! Aku sudah ngomong capek-capek sampai nangis bombay begini, dan dia cuma bilang thanks? Tapi…yah lumayan.
Dia bangkit berdiri sambil mengangkat ember kayunya yang kini telah kosong. Dengan cueknya dia melewatiku yang masih duduk berjongkok dan sibuk menyeka mata. Dasar manusia es! Tak punya perasaan! Menyesal aku telah begitu peduli padanya! Menyesaaaaal!
Setelah lima langkah dia berhenti. "Naruto, aku nggak akan mengatakan hal memalukan barusan pada teman-teman di sekolah. Dan kurasa…," dia berbalik kearahku.
"Kau itu nggak buruk juga," katanya dengan wajah lembut. Eh? Apa? Lembut? Ya, Tuhaaaan…mudah-mudahan aku wajahku tak semerah udang rebus saat ini. Sepertinya aku mulai terserang demam. Wajahku panas. Apalagi saat ngomong begitu, langit sore di belakangnya memberi efek yang begitu mengagumkan. Membuatku sempat berpikir bahwa dia itu malaikat atau apa.
"Mau sampai kapan kau disitu? Jangan GR! Aku tetap tak menyukaimu! Kau berisik dan sok tahu!" ujarnya sambil berjalan meninggalkanku. Kali ini tanpa berjalan lambat ataupun menoleh lagi. Dasar aneh!
Itachi-ni, kenapa kau menitipkan orang yang begini menyebalkan kepadaku?
Tapi entah kenapa, saat berlari kecil menyusul Sasuke, aku tak dapat menahan diri untuk tak tersenyum. Senyum yang tak kuduga juga tengah terpajang di bibir sang raven.
XXX
Pagi ini, entah kenapa kakiku mengajakku untuk melangkah kesini. Menjauhkanku dari halte tempatku biasa menunggu bus menuju sekolah. Oke, katakan aku gila. Katakan pikiranku sedang kacau sampai-sampai rela mengunjungi tempat ini lagi. Dan sialnya, itu yang sedang kulakukan!
Pintu kayu di hadapanku terbuka. Wajahku terangkat, berpikir bahwa yang membuka pintu dia. Tapi bukan. Itu ayahnya. Seorang pria berusia empat puluhan dengan tampang tegas namun tampan. Tangannya menjinjing tas kerja dan pakaiannya rapi. Pasti mau berangkat kerja. Ia menatapku dengan heran dan terlihat seperti sedang mengingat-ingat.
"Se-selamat pagi, Tuan Uchiha!" sapaku sambil membungkuk dalam-dalam. Tadinya mau kabur, sih! Tapi kok kayaknya jadi seperti maling.
"Ah, kau temannya Itachi yang pulang dari sini sambil menangis tempo hari, bukan?"
A-apa? Ke-kenapa? Ah, iya! Aku ingat! Waktu pulang dari sini setelah Sasuke bercerita, aku menabrak seseorang. Tapi karena penglihatanku sudah buram, aku tak tahu siapa yang kutabrak. Ternyata itu ayah Sasuke, toh? Tapi…tadi dia bilang apa? Itachi? Apa aku salah dengar?
Ayah Sasuke membuka pintu kayu di belakangnya dan…
"ITACHIIIII! Ada temanmu menjemput diluar!" teriaknya. Dan aku jadi yakin seratus persen bahwa aku tak salah dengar.
"Baiklah! Tunggu saja disini, ya! Aku mau berangkat kerja," Tuan Uchiha menunduk ramah padaku sebelum akhirnya berjalan meninggalkanku. Bersamaan dengan bunyi 'KRIET' dari arah pintu, aku melihat replikanya dalam bentuk sedikit lebih mungil dan berseragam keluar. Sasuke.
"Kau? Ngapain kau kesini?" tanyanya dengan tampang datar.
"Kenapa? Nggak boleh? Terserah kakiku dong mau melangkah kemana?" jawabku seenaknya. Sasuke mengangkat sebelah alisnya namun tak mengatakan apa-apa lagi. Seperti ayahnya, dia berjalan meninggalkanku yang masih berdiri mematung ditempat semula. Cih! Apa-apaan ini? Tidak sopan!
Aku berlari kecil dan akhirnya berhasil menjejeri langkahnya. Oke, aku memang kesal akan kelakuannya, tapi aku lebih penasaran pada yang satu ini.
"Sasuke! Kenapa ayahmu memanggilmu Itachi?" tanyaku.
Sasuke menghentikan langkahnya. Seketika itu juga wajahnya mengeruh.
"Bukan urusanmu!" jawabnya sambil sedikit menggeram.
"Ya…tapi itu kan aneh! Masa dia memanggilmu Itachi? Sudah berapa lama Sasuke?" tanyaku tak menyerah. Aku tahu dia bisa saja marah lagi, tapi aku sungguh-sungguh ingin tahu. Memanggil orang lain dengan nama orang yang sudah meninggal, bukankah itu kedengaran kejam? Setidaknya, itu seperti mengatakan secara gamblang bahwa orang yang telah meninggal itu jauh lebih penting dan dicintai ketimbang yang masih hidup. Begitukah?
"Kubilang bukan urusanmu!" ujarnya sambil berlari kencang meninggalkanku.
Kali ini aku tak mengejar. Tahu bahwa aku telah mencoba membobol privasinya terlalu dalam. Ini seharusnya bukan urusanku, tapi…
Sasuke…
.
.
.
To Be Continued
Baca Selengkapnya

Fuzzy Memory V

CHAPTER 5
Sasuke's PoV
"Ya, Naruto! Anak yang kau bicarakan itu adalah kakakku, Itachi. Dan dia sudah meninggal!"
Ah, akhirnya kukatakan. Akhirnya aku mengatakannya! Sial! Padahal aku hanya ingin melupakan segalanya dan melanjutkan hidup. Tapi…kenapa sulit? Kenapa sulit sekali keluar dari bayang-bayang kalian? Kakak…ibu…
Aku bersender di lemari, menunduk, sambil memijit pelipis. Kepalaku sakit. Dadaku sesak. Haruskah? Haruskah kulanjutkan semua pembicaraan ini? Pembicaraan yang tak ingin kuteruskan tapi telah terlanjur kumulai?
"Sa…Sasuke? Apa maksudmu? Kau…serius?" aku mengangkat wajah. Memandang ekspresi tak percaya berundung mendung yang dipasang orang dihadapanku. Apa-apaan dia? Kenapa wajahnya begitu?
"Dia sudah mati! Itu kurang jelas?" dia nampak terkejut dengan teriakanku yang tiba-tiba. Begitu juga aku. Aku…tak bisa berpikir jernih kalau menyangkut ini semua. Terlalu banyak tekanan.
"Ta-tapi…kenapa saat itu kau tak ada? Aku tak pernah melihat ada anak lain waktu bermain di rumah ini" kuhela napas panjang. Ini adalah hal yang berat untuk kubicarakan. Apalagi pada anak berambut pirang dihadapanku ini.
Kenapa dia bisa begitu terikat dimasa lalu? Padahal dia tak punya kaitan apa-apa. Tak punya ikatan apa-apa. Dia sama sekali tidak berhak! Tidak berhak punya ekspresi sama seperti diriku. Tidak berhak mencicipi apa yang kurasakan. Dia bukan siapa-siapa, kan? Tapi…
Memoriku saat aku berusia enam tahun tetap meluncur apik dari mulutku.
.
Flashback
Kami pindah ke rumah baru. Kakak bilang ini rumah yang indah dengan halaman yang luas. Tapi bagiku terlihat sama saja. Gelap. Dimana pun aku tinggal, toh aku tetap saja tak bisa memfungsikan indra penglihatanku dengan benar.
"Ayo Sasuke! Kita lihat-lihat rumah ini!" aku berjengit saat Itachi, kakak yang usianya dua tahun diatasku, menarik tanganku.
"Tidak mau! Kau mau mengolok-olokku?" tanyaku sambil menepis tangannya.
"Sasuke, bukankah kita sudah berjanji? Aku akan jadi matamu sampai saatnya nanti kau operasi dan bisa melihat dengan matamu sendiri" aku tercenung. Memang aku buta. Buta! Tapi Itachi tak pernah membuatku merasa demikian. Dia…selalu menggandeng tanganku agar aku bisa sama-sama menikmati keindahan yang tengah dia nikmati. Dia…adalah orang yang paling aku sayangi.
Aku buta sejak lahir. Sebenarnya keadaan ekonomi keluargaku amat sangat mendukung untuk melakukan operasi cangkok mata. Entah kenapa donor yang datang untukku pun selalu ada. Tapi aku juga terlahir dengan fisik yang lemah. Prematur. Ibu melahirkan sebelum waktunya karena tekanan pekerjaan. Bagaimanapun dia wanita karir yang sama sibuknya dengan ayah. Operasi sesederhana apapun bisa jadi membahayakan untukku. Dokter menyarankan agar aku dioperasi saat usiaku cukup besar dan fisikku cukup kuat untuk menjalaninya.
Entah sudah keberapa kalinya kudengar komentar dokter bahwa fisikku sudah nyaris sempurna saat check up. Aku bisa melakukan operasi dalam waktu dekat. Senang. Itu yang pertama kurasakan.
'Senang' itu…bukan rasa senang untuk diriku. Aku senang karena pada akhirnya Itachi tidak akan berdialog sendirian saat bersamaku. Tak perlu menjawab pertanyaanku tentang detil-detil konyol mengenai benda yang tak ada istimewa-istimewanya hanya karena aku tak bisa melihatnya.
Aku akan bisa melihat apa yang dia lihat dengan mataku sendiri! Dan itu hebat! Kami hanya akan saling berdebat tentang semua hal yang kami lihat. Dan itu…mengasyikkan! Sampai akhirnya…
"Sasuke! Kau tahu? Tadi ada anak yang main kesini! Mungkin dia seusia denganmu. Namanya Naruto! Kami main banyak hal. Scrabble, puzzle, kejar-kejaran dengan Yo, main tangkap bola, menangkap kupu-kupu. Besok kalau dia main lagi, keluarlah untuk main bersama!"
Saat mendengar ucapan Itachi, aku tak tahu kenapa hatiku terasa sakit. Suara Itachi terdengar senang. Bersemangat. Berbeda sekali dengan caranya bercerita pada ibu jika baru main denganku. Itu lebih terdengar seperti…nada mengasihani.
Siapa sih anak bernama Naruto itu? Kenapa Itachi bercerita tentangnya dengan suara gembira begitu? Apa karena si Naruto itu bisa melihat sementara aku tidak? Apa buatnya lebih baik punya adik menyenangkan seperti Naruto yang bisa main kejar-kejaran dengan Yo bersamanya? Ya, itu pasti! Siapa yang mau punya adik buta macam aku?
Aku benci dia. Aku benci Naruto! Kenapa? Kenapa dia datang? Kenapa dia mau merebut Itachi dariku? Satu-satunya orang yang mau menghabiskan waktu denganku. Ibuku, walaupun dia baik, dia selalu sibuk dengan pekerjaan. Dan bagi ayah, aku adalah aib. Anak cacat tak pernah berarti bagus baginya. Aku tak pernah dianggap ada olehnya. Jadi, salahkah jika aku berharap banyak pada Itachi?
"Ayolah, Sasuke! Mainlah bersama Naruto! Dia pasti senang karena kalian sepantar. Dia anak yang menyenangkan, lho! Kau pasti akan senang main dengannya!" ajak Itachi. Entah yang keberapa kalinya. Ya, Naruto itu hampir tiap hari datang ke rumah. Menyita waktuku bersama dengan Itachi karena kakakku itu lebih suka bermain dengannya.
Walaupun Itachi mengajakku main, aku tak sudi main dengan mereka. Mereka, anak-anak berpenglihatan normal, mana bisa mengerti aku? Mereka mau membuatku jadi orang bodoh yang duduk di pinggir taman hanya berteman dengan kegelapan sementara mereka berkejaran main layangan? Cih! Tidak, terima kasih! Mendengar tawa mereka yang masuk ke kamarku saja sudah sangat membuatku kesal.
XXX
"Sasuke, dokter bilang, kau sudah bisa operasi bulan depan. Donor matanya akan diusahakan secepatnya. Sebentar lagi kau akan bisa melihat, Sayang!" aku bisa mendengar nada senang dalam suara ibu sepulangnya dia dari kantor. Pantas saja dia pulang cepat. Ternyata dia baru mengambil hasil check up-ku di dokter Tsunade.
"Wah, selamat ya Sasuke!" Itachi langsung memelukku. Aku balas memeluk tangannya sambil tersenyum.
"Buatlah list tentang hal yang ingin kau lakukan setelah kau bisa melihat, Sasuke!" ujar ibu dengan semangat. Aku hanya sanggup mengangguk. Aku terlalu speechless. Ini…sangat mendebarkan!
"Sepertinya dia harus belajar bagaimana membedakan semangka dengan apel terlebih dahulu" kata ayah. Aku tak tahu itu bercanda atau bukan. Tapi otakku yang masih polos dan sederhana ini, hanya bisa mengartikan bahwa ucapan itu…menyakitkan.
"Ayah! Kau tahu sendiri Sasuke itu jenius!" tegur ibu pada ayah. Kurasa. Aku kan tak bisa melihat.
"Jenius itu berbeda dengan bisa melihat Mikoto. Lagipula-" aku bangkit berdiri sebelum ayah menyelesaikan ucapannya. Walau aku buta, yeah, aku bisa merasakan semua mata tertuju padaku.
"Sudahlah, Ayah! Ibu! Jangan bertengkar karena aku! Aku tak mau dioperasi! Pokoknya aku tak mau dioperasi!" jeritku sebelum aku berlari menuju kamar yang jalannya sudah kuhapal.
"Kau lihat apa yang kau buat?" suara ibu. Sebelum aku menutup pintu kamar aku mendengar…
"Ibu, biar aku yang bicara dengannya!"
Itachi.
Aku membenamkan wajahku dibantal dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Berharap setiap bulir air mata yang tumpah ke atasnya bisa mengurangi sakit yang kurasakan. Tapi ternyata tak berpengaruh. Kenapa? Kenapa ayah sangat membenciku? Apa aku sebegitu buruknya? Memangnya siapa yang mau terlahir buta? Kalau boleh memilih, aku juga tak mau! Tak mau!
TOK! TOK! TOK!
"Sasuke" panggilan lembut Itachi berhasil mengalihkan wajahku dari bantal untuk sesaat. Tapi itu tak lama karena aku mulai menghambat napasku dengan bantuan bantal. "Aku masuk, ya?"
KRIET
Bisa kudengar pintu terbuka perlahan tapi itu tak dapat mengalihkan perhatianku lagi. Aku tak peduli pada siapapun yang lewat disana. Bahkan Itachi. Bukankah baginya aku juga hanya si buta yang tidak semenyenangkan Naruto berisik itu?
Langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Aku tak bergeming. Langkah kaki itu makin dekat dan akhirnya tempat tidurku bergolak saat seseorang mencelos diatasnya. Tak lama pundakku disentuh.
"Sasuke, kau nangis?" bodoh! Bodoh! Memangnya dia pikir aku ngapain? Membuatku malu saja.
"Kenapa kau bilang tak mau dioperasi?" aku mengangkat wajah dan menghadap padanya. Walaupun aku tak bisa melihatnya, bisa kupastikan posisinya berdasarkan asal suaranya.
"Karena dioperasi atau tidak itu tak berpengaruh untukku! Semua tetap membenciku. Kau juga! Kau juga pasti menginginkanku dioperasi karena kau malu punya adik bu-" sebentuk tangan melingkar dipunggungku sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Sementara satu tangan lain menarik tubuhku hingga kepalaku jatuh ke dada Itachi. Detak jantungnya…kedengaran.
"Maaf! Maaf jika selama ini aku membuatmu merasa begitu. Tapi aku tak pernah malu memiliki kamu. Kau adalah hal yang paling penting untukku, Sasuke"
"Lalu Naruto?" tanyaku sambil mengangkat kepalaku dari dadanya yang nyaman.
"Ha?"
"Kau lebih menyukai Naruto daripada aku, kan? Aku tahu kau lebih senang bermain dengannya. Kau juga pasti lebih senang kalau adikmu dia, kan?" akhirnya. Akhirnya aku berhasil mengeluarkan segala hal mengganjal yang selama ini kusimpan sendiri. Walaupun aku tahu mungkin saja jawaban yang akan kudapatkan tak semanis yang kuharapkan, tapi aku ingin tahu. Meskipun aku harus menyesal nantinya.
"Naruto? Ya, ampun Sasuke! Jadi itu yang membuatmu tak mau main bersama?" tanya Itachi dengan sedikit gelak di nada suaranya. Itu membuatku sebal tapi disisi lain itu membuatku merasa…lega.
"Naruto itu, sampai kapanpun nggak akan pernah jadi adikku. Bagaimana mungkin sih dia bisa menggantikan kamu?" wajahku…panas. Apalagi saat Itachi memelukku lagi.
"Dengar, ya! Naruto itu hanya teman mainku. Sebenarnya aku berharap dia bisa jadi teman mainmu juga. Tapi kau selalu menolak. Aku…ingin kau bisa bermain dengan bebas dan punya teman seperti anak-anak yang lain. Aku hanya berpikir bahwa Naruto bisa jadi teman yang baik buatmu. Jadi teman pertamamu!"
"Aku nggak butuh Naruto. Aku nggak butuh orang lain! Aku hanya butuh kamu! Aku hanya butuh kakak seorang!" tegasku sambil menantang matanya yang bagiku…hitam semua. Hmph. Itu yang kudengar selanjutnya sampai tangan hangat Itachi menyentuh pipiku.
"Aku juga membutuhkanmu. Tapi aku nggak mau egois dan memonopolimu untuk diriku sendiri. Kau membutuhkan semua orang sama seperti orang lain membutuhkanmu. Semua orang diluar sana sangat membutuhkanmu. Butuh untuk mengenalmu. Karena itu, walaupun ingin, aku tak mungkin 'menyimpanmu' sendirian. Habis…kau itu adik paling manis yang pasti membuat semua kakak di seluruh dunia iri padaku!" Itachi mengacak rambutku sebelum akhirnya membenamkan kepalaku di dadanya lagi.
Walau aku tahu dia bohong soal orang yang membutuhkanku (kuputuskan secara sepihak), tapi aku tahu dia jujur soal rasa bangganya akan diriku. Aku memejamkan mata dengan santai di dadanya. Baunya seperti melon. Bau sabun yang kami pakai. Manis. Ah, Itachi. Terima kasih.
"Aku mau dioperasi. Aku mau dioperasi, kakak!" Itachi memegang pundakku, menjauhkanku dari tubuhnya. Aku tahu dia tengah memandangku. Memastikan kesungguhan. Kusentuh wajahnya dengan jemariku yang kecil. "Aku mau melihatmu"
End of Flashback
.
Aku menghela napas. Menghentikan ceritaku sejenak. Mencoba mengatur perasaanku yang bergejolak karena aku tahu, setelah ini aku akan sampai pada bagian yang paling berat. Bagian yang sebenarnya ingin kuhindari.
Mudah saja buatku mengusir Naruto sekarang juga sama seperti saat aku menyeretnya kemari. Tapi aku tahu bahwa aku harus. Aku yang telah membawanya kemari. Memaksa untuk membuatnya tahu akan kebenaran dan apakah aku akan sebegitu tak bertanggungjawabnya padanya? Tidak. Aku adalah Sasuke Uchiha. Tak akan kubiarkan diriku menelan ludahku sendiri.
"La-lalu apa yang terjadi Sasuke? Apa yang terjadi pada Itachi?" aku tak langsung menjawab. Aku hanya bisa memandangi Naruto dengan tatapan terdingin yang kubisa. Aku berharap, paling tidak itu bisa membantuku berpikir jernih. Bahwa itu bisa menyembunyikan ketakutan yang tengah menggelegak di hatiku. Ketakutan untuk dibayangi oleh kejadian saat itu.
Tapi lagi-lagi dia memasang tampang menyebalkannya itu. Tampang seolah-olah dia ikut sakit. Ikut bersedih. Dan aku tak suka.
"Seminggu sebelum operasi cangkok mataku, lagi-lagi kondisi fisikku menurun. Aku sakit batuk parah dan di rawat di rumah sakit di Tokyo. Sepulang dari kantor, ibu selalu menungguku di rumah sakit. Aku senang ada dia tapi…aku rindu Itachi. Disana aku juga tak punya teman main"
"Karena itu aku meminta ibu untuk membawanya ke rumah sakit. Dan ibu setuju karena besok sekolah libur. Jadi itu tak akan membuat sekolah Itachi terganggu. Hari itu…hari dimana seharusnya Itachi datang, aku menunggunya dengan riang. Kakakku akan datang dan dia akan mengajakku main keluar. Membebaskanku dari kamar membosankan ini. Tapi…"
Aku bisa mendengar Naruto menelan ludah. Dadaku makin sakit dibuatnya.
"Tapi dia tak pernah datang. Dia dan ibu…mengalami kecelakaan. Kata ayah, ibu menyetir dalam keadaan mengantuk dan akhirnya menabrak pembatas. Ibu…meninggal di tempat"
"La-lalu Itachi?" tanya Naruto pahit. Aku melirik tajam pada sosok pria berambut pirang dihadapanku itu.
"Itachi terluka parah. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit. Tapi itu percuma. Nyawanya juga tetap tak bisa tertolong" aku berjalan mendekat ke arah Naruto dengan perlahan. Sekarang aku bisa melihat lebih jelas bahwa mata birunya mulai tergenang oleh bening air matanya. Mata yang sudah melihat Itachi.
"I-itu nggak mungkin! Ke-kenapa?" walaupun air mata itu tak bergulir jatuh dari pelupuk matanya, suaranya terdengar bergetar hebat. Aku…
"Kau tahu Naruto? Ini…adalah mata Itachi!" aku menyentuh titik pertemuan kedua alisku dengan jemari tangan kanan sambil terus menusuk pandangan pada Naruto. Naruto nampak syok. "Dia mempercayakan eksistensinya padaku. Dia masih hidup dan melihat dunia melalui diriku. Sekarang kami bisa melihat apapun bersama-sama"
Naruto tersentak kecil saat aku memotong ucapanku. Matanya membulat dengan ngeri. Ngeri? Ya, karena aku bicara dengan nada paling dingin yang bisa dikeluarkan oleh pita suaraku.
"Aku kembali kesini karena pekerjaan ayah. Buatku, ini kesempatan baik karena aku selalu ingin tahu seperti apa kau ini Naruto. Aku selalu ingin tahu anak macam apa yang sudah merebut Itachi dariku. Dan kau…kau membuatku kecewa! Kau hanya anak bodoh, berisik, sembarangan, tak tahu malu, dan tak tahu aturan!"
"Jangan memasang tampang seperti itu! Jangan memasang tampang seolah kau yang paling bersedih! Aku membencinya! Kau tak tahu apa-apa tentang kesedihan akan kematian Itachi!" teriakku di depan wajahnya. Naruto mengerutkan dahi dengan geraman di ujung bibir.
"Kau bertanya kenapa aku menciummu? Itu karena aku MEMBENCIMU! Puas?"
'Kenapa harus matamu yang bisa melihat Itachi dalam keadaan hidup? Sementara aku tidak?' jeritku dalam hati.
BUAGH!
Tonjokan Naruto mendarat telak di rahang kananku. Membuat langit-langit mulutku merasakan asin dan logam disaat bersamaan. Cih!
"Dasar bodoh! Kau pikir kematian Itachi itu pantas dijadikan sebagai bahan untuk membanding-bandingkan kesedihan? Kau…" akhirnya tangis Naruto pecah juga. Aku mengusap lebam bekas tonjokan Naruto tapi ucapan Naruto yang terakhir…entah kenapa terasa lebih menohokku. Tepat dihati dan itu jauh lebih terasa sakit ketimbang denyut yang menjalar di seluruh wajahku.
Naruto berbalik dengan bahunya yang semakin berguncang. Kali ini, dia berhasil membuatku merasa bersalah.
"Sasuke bodoh!" makinya sambil melesat keluar. Meninggalkan aku sendirian di ruang keluarga dengan perasaan kacau. Aku jatuh berlutut. Karena tak tahan dengan kekesalan dan penyesalan yang membuncah di dadaku, aku hanya bisa memukul lantai dengan kepalan tangan bertubi-tubi.
Brengsek! Brengsek!
Tak lama langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arahku. Kupikir itu Naruto. Tapi saat kudongakkan kepala yang kudapati adalah ayah. Yah, lagipula buat apa Naruto bodoh itu kembali lagi kesini?
"Tadi ada anak pirang yang keluar dari sini sambil menangis. Hn, apa yang sudah kau lakukan padanya, Itachi?" tanyanya sambil berlalu menuju kamarnya.
Dan pertanyaannya hanya mampu kujawab dengan senyum hambar karena dia memang tak pernah membutuhkan jawabannya.
XXX
Naruto's PoV
Aku membuka mataku perlahan. Akh, kepalaku pening. Dimana ini ya?
Kuputar pandanganku ke seluruh penjuru ruangan dan akhirnya menyadari bahwa aku ada di kamarku sendiri dan aku sedang tengkurap di ranjang. Perlahan aku bangkit sambil memegang kepalaku yang terasa berputar-putar. Aku masih memakai pakaianku tadi siang.
Benar juga. Tadi, sepulang dari rumah Sasuke, aku menangis sejadi-jadinya di kamar dan mungkin saat itu aku jatuh tertidur. Ah, aku mulai merasa aneh lagi. Rasanya seperti ada yang menggeliat di perutku, menekan dadaku, dan ingin kukeluarkan dari mulutku dalam bentuk teriakan. Aku…merasa kacau.
Sedikit banyak aku menyesal. Kenapa aku harus mendengarkan semua cerita Sasuke? Bukan. Kenapa aku harus bertemu Sasuke? Kenapa? Daripada begini rasanya lebih baik mengubur semua kenangan itu. Hidup normal seperti sebelumnya. Berteman dengan Neji, Gaara, dan Shikamaru, naksir Sakura-chan, mengerjai guru aneh bermasker itu alias Kakashi-sensei. Ah, aku ingin hidupku yang itu. Hidupku yang tanpa Sasuke.
"Narutoooo! Kau tidur, ya! Cepat turun untuk makan malaaaam!" teriakan Nenek Tsunade menggema sampai ketelingaku. Padahal aku yakin dia pasti teriak dari bawah tangga. Tapi suaranya tetap saja sanggup membuat gendang telingaku pecah. Kali ini aku tak berniat memberinya julukan yang aneh-aneh.
Aku bangkit dari ranjang, berjalan menuju lemari, dan menarik baju ganti dengan sekenanya.
Ah~ ternyata anak dalam kenanganku itu sudah meninggal. Kekh, dia memang hanya masuk dalam hidupku tak lebih dari beberapa hari saja, tapi…kesannya disini, dihatiku, membekas sangat dalam. Aku…sama sekali tak bisa berpikir bahwa aku bisa sesedih ini. Sekacau ini. Bagaimana dengan Sasuke? Cih! Apakah aku harus membenarkan pikirannya yang sepihak itu? Yang seenaknya melarangku bersedih?
TOK! TOK!
"Naruto?" ternyata Nenek Tsunade sudah berada di luar kamarku. Nada khawatir terdengar jelas dari suaranya.
"Iya. Aku sedang ganti baju. Aku akan langsung turun!"
"Benar ya?"
"Iya!" dan aku mendengar suara langkah kakinya menjauh. Setelah berganti baju, kupantulkan diriku di kaca dan mendapati Naruto yang bermata merah dan sedikit bengkak di hadapanku. Ah, kelihatan sekali kalau aku habis menangis. Tapi kurasa aku bisa mencari alasan. Aku kan baru bangun tidur, wajar saja jika mataku merah.
Saat sampai di ruang makan, aku mendapati Nenek Tsunade sudah duduk di salah satu kursi makan. Sendirian.
"Kakek tidak makan dibawah?" aku mengambil duduk di hadapan Nenek Tsunade.
"Dia sedang ada ide dadakan, jadi minta makanannya untuk diantar ke kamar. Matamu kenapa?"
"Ah ini? Aku baru bangun tidur"
"Bukannya menangis?" aku tercekat. "Tadi aku melihatmu pulang sambil menutup wajah. Kukira menangis. Ha~h sudahlah! Oh, iya! Temanmu tadi…kurasa aku kenal deh Naruto!" kata-kata Nenek Tsunade yang terakhir nyaris membuatku menjatuhkan sumpit yang baru saja kuangkat.
"Eh?"
"Waktu melihatnya, aku merasa wajahnya sangat familiar. Walau bersikap biasa, aku bertanya-tanya dalam hati 'aku melihat anak ini dimana, ya?', 'Anak ini siapa, ya?'. Jadi kepikiran terus. Akhirnya tadi sore aku menyadarinya. Namanya Sasuke Uchiha, bukan?"
"Ne-nenek kenal dimana?" Naruto bangkit dari duduknya.
"Hei, antusias sekali!" kata nenek. "Aku ingat! Dia bocah Uchiha yang dulu sempat kutangani saat masih kecil. Fisiknya lemah hingga dia harus bolak-balik rumah sakit dan saat itu aku dokter yang menanganinya"
Ah, benar juga! Nenek Tsunade kan dulunya dokter. Yah, sebelum dia pensiun tiga tahun lalu. Ternyata…dokter yang menanganinya itu…nenek, ya?
"Kasihan dia. Saat dimana seharusnya dia mendapatkan dukungan penuh untuk sembuh dari penyakit terakhirnya dan menjalani operasi cangkok mata, kedua anggota keluarganya malah pergi meninggalkannya. Dia sempat tak mau dioperasi matanya karena satu-satunya alasannya untuk melihat telah hilang. Dia hanya mau melihat kakaknya"
"Tapi waktu tahu bahwa pesan terakhir sang kakak adalah untuk mencangkokkan mata miliknya padanya, akhirnya dia mau juga. Ah~ dia memang anak yang tampan. Hubungan kalian sepertinya rumit, ya?"
Aku tak tahu lagi apa yang Nenek Tsunade katakan karena aku sudah tak mendengarkan kata-katanya. Aku…jadi kepikiran tentang Sasuke.
Sasuke…
.
.
To Be Continued
Baca Selengkapnya

Fuzzy Memory IV

CHAPTER 4
PIK! PIK!
Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum pandanganku yang semula kabur menjadi jelas. A~h! Nyenyak sekali tidurku. Kenapa ya? Hihi! Mungkin karena aku sedang senang. Senang kenapa? Nyaa…rahasia!
Kuluruskan kedua kakiku ke atas dan dengan sekali sentakan, aku sudah terduduk di atas ranjang. Kutolehkan kepala ke meja samping tempat tidur. Jam wekerku sudah menunjukkan pukul 9. Dia akan datang dalam waktu satu jam lagi. Aku harus siap-siap!
"Maha Gooo!" teriakku sambil berlari keluar kamar menuju kamar mandi di lantai bawah.
"Berisik kau Naruto!" bentak si nenek cerewet Tsunade saat aku melewati dapur. Hh, dari baunya sih, kayaknya dia masak telur gosong lagi, deh! Aku melangkah mundur lagi ke dapur, mengintipnya, dan setelah yakin dia membelakangiku, aku memeletkan lidahku dan membuat berbagai ekspresi jelek di wajahku.
Sh*t! Waktu aku sedang menggembungkan pipiku seperti kodok, dia melihatku! Nenek-nenek centil itu MELIHATKU! Sebelum dia berkoar lagi, aku mundur teratur dengan senyum konyol yang menampakkan jejeran gigi depanku.
"Pagi, Nek! Nenek cantik hari ini! Dadah!" aku melambaikan tangan sebentar sebelum akhirnya ambil langkah seribu. Ha~h! Tetap saja suara cemprengnya itu kedengaran juga.
"Narutooooo! Kurang ajar kau, ya!" hih! Padahal aku kan sudah memujinya cantik! Bagaimana sih? Bukannya berterima kasih! Aku kan butuh kelapangan dada yang sangat besar untuk mengucapkannya! Hihihi! Bohong, kok! Nenek Tsunade itu tetap saja nenekku yang nomor satu!
Selesai mandi, aku melangkah ke dapur sambil mengelap rambutku yang basah dengan handuk. Kulirik piring yang terpajang dengan isi yang…yeah! Tepat seperti dugaanku.
"Kakek kemana?" tanyaku sambil membuka kulkas. Kuraih sebotol susu kacang kedelai dan menenggaknya langsung dari sana. "Aaaah! Segarnya!"
"Ah! Kau ini! Kebiasaanmu itu mirip sekali dengan ayah dan kakekmu!" aku meringis mendengarnya. Nenek Tsunade melanjutkan, "Dia begadang semalaman untuk menyelesaikan buku barunya. Bisa dipastikan dia tak akan bangun kurang dari jam 4 sore"
Aku hanya menanggapinya dengan ber-o kecil. Kakekku itu memang seorang penulis novel yang flamboyan. Sedikit genit, sih! Dan aku harus merahasiakan itu dari Nenek Tsunade. Selain aku sudah melakukan janji antar laki-laki dengannya, aku juga tak mau sampai ada perang dunia ketiga di rumah ini. Brr! Membayangkannya saja aku tak berani. Bisa-bisa Nenek Tsunade membunuh orang satu blok!
"Hei, Naruto! Teman sekolahmu itu jadi datang?" aku merespon pertanyaan nenek dengan mengangkat bahu.
"Entah, ya! Harusnya sih jadi! Tapi tak tahu juga kalau dia membatalkannya" jawabku.
"Siapa sih? Gaa, Neji, atau Shika?"
"Bukan mereka! Kalau mereka sih ngapain aku bilang-bilang ke nenek! Biasanya juga datang tak diundang pulang tak diantar!" jelangkuuuung, kali!
"Terus?" ih! Kenapa sih harus ada yang namanya nenek penasaran?
"Nanti saja kenalannya, lah! Dia teman kelompok belajarku yang baru! Anaknya menyebalkan! Lihat saja sendiri!"
"Hm…kalau menyebalkan, kenapa dari tadi semangat sekali?" goda Nenek Tsunade. Digoda begitu, entah kenapa membuatku merasa panas menjalar di wajahku. Sial! Pasti nenek bawel itu bakal menggodaku lagi! Soalnya saat aku melihat bayanganku di pintu kulkas yang agak-agak buram saja, aku tahu bahwa wajahku merah sekali.
"Y-ya soalnya…ah! Sudahlah! Nenek juga nggak akan mengerti! Nanti akan aku ceritakan, kok!" elakku sambil berbalik ke pintu keluar.
"Hihihi! Malu, tuh! Ya, sudah! Nanti kalau dia datang, ambil kuenya di bawah, ya!"
"Ya, ya, ya! Siap, bos!" aku melangkah keluar dan kembali ke kamar. Mempersiapkan sesuatu.
XXX
Kupandangi jam weker di meja samping tempat tidurku. Jam 10.15. Jadi datang tidak ya dia? Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin saja dia tak akan datang. Hubungan kami buruk. Aku juga…seandainya bukan gara-gara Kakashi, mana mau aku sekelompok dengannya! Aku bersemangat hari ini semata-mata untuk balas dendam, kok! Tak lebih, tak kurang!
Yah, rencana Shika sih sebenarnya nggak hebat-hebat amat. Intinya, nih, aku sendiri pun bisa memikirkannya. Tapi masalahnya, aku nggak bisa berpikir. Orang itu…seperti racun. Melumpuhkan kinerja otak. Membuat emosi memuncak. Membuat jantung lebih cepat berdetak. Dan ah! PLAK! Lagi-lagi aku berpikir yang aneh-aneh.
TRANG…TRING…TRUNG…TRENG…TRONG…
Ah! Bunyi belku! Jangan-jangan itu dia? Ah, memangnya siapa lagi? Mm…
Ah! Aku ini kenapa sih? Kan tinggal turun saja kok repot!
"Narutooooo! Tamumu, tuh!" tuh kan! Aku jadi diteriaki duluan sama nenek cerewet itu! Aku langsung bangkit dari meja dan keluar kamar dengan tergesa.
Aku menghela napas sebelum membuka pintu depan. Ih, kok aku jadi deg-degan, sih? Tapi bunyi bel berikutnya membuatku langsung membuka pintu itu. Daripada diteriaki lagi. Hih!
Syukurlah aku sukses menampakkan wajah belagu saat pintu berayun membuka tapi…itu tak bertahan lebih dari lima detik! Sekarang aku ternganga melihat sosok yang berdiri dihadapanku. Iya sih! Benar kok kalau dia Sasuke! Tapi…
KENAPA DIA SEKEREN INI?
Rambutnya masih ditata dengan gaya yang sama. Di gel jabrik ke atas dibagian belakang. Bajunya juga cuma kemeja biru muda yang dipadu dengan sweater kotak-kotak belah ketupat merah biru tipis yang kuperkirakan berlengan buntung karena dia menumpuknya lagi dengan jaket bertudung warna coklat. Hanya seperti mengganti baju seragam dengan baju biasa. Lagipula dia yang memakai baju biasa juga pernah kulihat, kan? Ah, tak ada yang luar biasa. Dia memang selalu kelihatan keren, kok Naruto! Apa? PLAK! PLAK! Apa yang kupikirkaaaan?
"Sampai kapan kau akan membiarkanku berdiri disini, bodoh? Dimana sopan santunmu pada tamu?" tampang cengoku langsung berganti dengan kedut sebal. Iiiih! Orang ini!
"Kau sendiri juga nggak punya sopan santun waktu aku ke rumahmu!" balasku.
"Lho! Aku kan datang kesini baik-baik! Jadi aku tamu. Nah, kau? Mengintip rumah orang sembarangan. Itu sama artinya dengan menyusup, lho! Masih untung tidak kulaporkan pada polisi" GRR!
"Ka-"
"Naruto! Kenapa temanmu tidak kau suruh masuk?" tanya Nenek Tsunade yang muncul disana dengan sedikit tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Selamat pagi, Nyonya!" aku yang masih melihat ke Nenek Tsunade menoleh syok ke sosok diseberang pintu yang kini tengah membungkuk sopan. Setelah menegakkan badannya lagi, dia tersenyum dengan eh, sangaaaat manis sampai matanya hilang. "Anda nyonya yang sangat cantik!"
A-apaa-
"Wuah! Anak yang sopan sekali! Beda sekali dengan cucuku, ya! Hohoho!"
"Cucu? Ah, saya kira Anda ibunya Naruto," wajahku tambah cengo.
"Hahaha! Kau ini bisa saja! Ayo masuk! Mari masuk! Hahaha! Sudah tampan, sopan pula! Kau ajarilah sedikit si Naruto itu biar bisa jadi pria sejati sepertimu. Hohoho!" Nenek Tsunade berkelebat didepanku untuk menyongsong tamuku -atau- tamunya? Pokoknya dia mempersilahkan Sasuke masuk dengan lagak seperti tuan rumah yang amat baik. Dan saat si raven itu melewatiku, aku melihatnya menyeringai padaku.
Setan! Dasar setan! Awas kau, ya!
XXX
Aku meletakkan piring kecil berisi satu slice cheese cake di hadapan Sasuke setelah sebelumnya meletakkan secangkir teh dan sekotak Pocky di tempat yang sama. Setelah itu aku menyusulnya duduk di depan meja dengan alas dua tatami. Sasuke melepaskan jaketnya dan tuh kan! Tebakanku benar. Dia memang memakai sweater buntung dan oh, please deh Naruto! Memangnya itu penting?
"Jaketmu…sini biar kugantung!" aku menadahkan tangan menyebrangi meja. Alisnya naik sejenak sebelum akhirnya dia menyerahkan jaketnya padaku. Aku bangkit dan menyangkutkannya digantungan bajuku.
"Bisa juga kau jadi tuan rumah yang baik!" komennya. Duh, sabar…sabar…
Aku kembali ke tatamiku dan memandanginya yang sedang mengeluarkan buku dari ranselnya. Kalau bukuku sih sudah stand by diatas meja dari tadi. Tapi aku langsung melengos ke arah jendela saat dia mengangkat wajahnya dan menatapku tajam.
"Ada apa lihat-lihat?" tanyanya ketus.
"Hih! Memangnya kau ini burung layang-layang diluar sana, apa? Aku kan sedang melihat keluar jendela!" sahutku cuek. Sasuke ber-itch kecil.
"Ya, sudah! Mau mulai dari yang mana, kita?" heh? Bisa juga dia memulai pembicaraan.
"Yang mana saja boleh!" jawabku asal sambil membuka bukuku ditumpukan paling atas.
"Oke! Kakashi memberikan 8 soal. Kita kerjakan masing-masing setelah itu baru kita samakan"
"Oke! Nggak masalah!" aku mencetek pensil mekanikku. Belajar kelompok macam apa ini? Tak ada debat. Tak ada pendapat. Tak ada argumen. Hiih! Membosankan! Kalau hanya begini, mananya yang disebut belajar kelompok?
Belum selesai menulis rumus untuk jawaban nomor 1, aku melirik lagi ke Sasuke. Kelihatannya dia serius sekali. Ha~ah memang tampangnya selalu begitu. Memangnya dia nggak khawatir bakal cepat tua, apa? Kali ini aku sengaja membuat diriku tertangkap basah olehnya. Dan…yes! Komennya keluar.
"Apa kau lihat-lihat?"
Aku terdiam. Sasuke menautkan kedua alisnya.
"Memangnya nggak boleh?" tanyaku balik. Kali ini mata Sasuke menyipit dan bibirnya terbuka sedikit. Hihihi! Bisa juga dia berekspresi begitu. Ternyata Shika benar. Rahasianya adalah bersikap tenang dan berpikir jernih. Lalu yang kedua…
"Aku suka memandangimu, soalnya kau mirip sekali dengan anak dalam kenanganku itu! Yah, walaupun dia baik dan kau agak error, tapi aku tetap berpikir kalau kalian itu mirip" wajah Sasuke kini mengeras. Hohoho! Ekspresi baru lagi.
Yang kedua adalah…bicarakan hal-hal yang membuatnya kesal. See? Rencana yang simpel, kan? Dan sejauh ini, yang kutahu, dia kesal sekali kalau aku membicarakan soal anak masa laluku itu. Jadi, aku hanya akan membicarakan tentang anak itu saat belajar bersama. Dan ternyata benar! Hanya masalah itu saja yang bisa memancing emosinya. Kalau dipikir-pikir, kenapa ya? Kalau memang dia tak ada hubungannya, kenapa harus marah? Jadi yang sekarang, bisa juga dibilang, hitung-hitung untuk memancingnya bicara.
"Sudah berapa kali kubilang! Kau salah orang!"
"Lho? Aku kan juga tidak bilang itu kau! Aku hanya bilang kalian mirip. Titik!" melihatnya mulai emosi, kata-kata selanjutnya makin santai meluncur dari mulutku. Rasakan kau Sasuke! Akhirnya…bisa juga kau kesal heh manusia es!
"Kau tahu? Anak itu suka banget sama cheese cake. Soalnya nih, ya! Waktu aku ke rumahnya, dia selalu menyajikan cheese cake dan bilang kalau dia sukaaaa sekali sama kue yang satu ini. Terus…dia juga suka…TARA! Pocky!" aku mencabut sebatang Pocky dari kardusnya dan dengan dramatis menunjukkannya tepat di depan wajahnya sebelum mencaploknya ke dalam mulutku.
KRAUK! KRAUK!
Kali ini aku bisa melihat dua kedut didahinya.
"Dia pernah main kesini sekali. Kurasa Nenek Tsunade juga masih ingat dia. Tadi waktu aku mengambil kue dibawah, dia kira kau itu dia, lho!" sekarang kedut di dahinya bertambah satu. Jadi tiga.
"Oh, iya! Dia pintar main scrabble, lho! Pasti Bahasa Inggrisnya sebagus dirimu, Sasuke! Terus…dia juga punya anjing Golden Retriever kayak Yo! Waktu dulu sih masih kecil, tapi mungkin sekarang juga sudah sebesar Yo! Ah, jadi kang-"
BRAKK!
Sasuke menggebrak meja dan membuatku nyaris melonjak dari tatamiku. Kepalanya menunduk jadi aku tak tahu bagaimana wajahnya. Tapi aku bisa melihat pundaknya naik turun dengan berat. Oow! Dia benar-benar marah! Berarti…berhasil! Berhasil! Aku berhasil membuatnya tengsin! Hahaha!
"Jangan bicarakan anak itu lagi di depanku! Aku bukan dia!" Sasuke mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan tajam. Lalu, entah aku yang terlalu syok atau mataku yang mulai minus, ekspresinya berubah lunak. Ada cahaya murung dari kedua bola mata pekatnya itu.
Dia lekas merapikan semua buku-bukunya, memasukkan ke tasnya dengan kasar, dan beranjak pergi. "Aku pulang!"
Saat sosoknya sudah tak ada di kamar itu lagi, aku masih tercenung dengan tampang kosong kurasa. Kenapa kau Naruto? Harusnya kan kau merasa senang karena berhasil membuat si manusia dingin itu kesal sama seperti yang selalu dia lakukan padamu? Tapi…kenapa aku juga jadi merasa bersalah? Cahaya matanya…menampakkan rasa sakit. Sakit yang tidak kurasakan saat dia membuatku marah. Apa aku…sudah kelewatan? Tapi kenapa? Kenapa masalah anak masa laluku itu bisa sangat menyinggungnya?
XXX
Setelah berpikir dalam-dalam, aku memutuskan untuk meminta maaf pada Sasuke dan bicara baik-baik padanya. Sekalian mengembalikan jaketnya yang tertinggal di rumah. Ih! Sebal! Kenapa jadi aku lagi yang harus merasa bersalah? Tapi…
Aku menarik ulur tanganku yang hendak memencet bel bertuliskan Sasuke dibawah bel lain yang mencantumkan nama Fugaku. Jadi…dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya, ya? Kutarik napas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan hingga aku punya keberanian untuk memencet bel dan…berhasil!
Tak lama, gonggongan anjing terdengar mendekat ke arah pagar dan akhirnya pagar kayu itu terbuka. Aku menelan ludah saat mendapati sosok Sasuke berdiri di depanku dengan Yo melonjak-lonjak girang di sampingnya. Well, aku memang mencari dia, tapi sekarang…rasanya seperti mau kabur saja!
"Mau apa lagi? Masih ada cerita yang kurang soal anak dalam kenanganmu itu, ha?" tanyanya dengan nada menusuk.
"Mm…aku mau minta maaf!" jawabku sambil mencoba menahan emosi. Entah emosi karena marah atau rasa bersalah yang tadi. Sasuke tampak sedikit terhenyak. "Ya, kalau aku membuatmu marah, aku minta maaf. Tapi, please! Bilang kenapa kau marah? Maksudku…jika ini memang tak ada hubungannya denganmu…"
"Ikut aku, Naruto!" dia merenggut tanganku yang membawa bungkusan jaketnya. Sumpah! Saat dia melakukannya, aku merasa jantungku terlepas untuk sesaat.
"Eh? Kemana?"
Sasuke tak menjawabku. Dia hanya terus menyeretku masuk ke dalam rumahnya. Huwaaa! Apa-apaan ini? Duh, aku jadi berpikiran yang tidak-tidak, nih? Kenapa aku justru teringat dengan kejadian di halaman belakang sekolah?
Kami berhenti di ruang perapian. Eh, ruangan ini masih terlihat sama. Barang-barangnya…entahlah. Sasuke melepaskan pegangan tangannya dan melintasi ruangan menuju rak buku besar. Dia mengambil sesuatu dari sana. Bentuknya seperti pigura foto tapi…aku juga tak bisa memastikan karena jarak.
Sasuke melempar benda itu ke atas meja. Benar. Itu memang pigura. Aku mendekat dengan wajah penasaran. Di pigura itu, ada sebuah foto keluarga. Ada seorang ayah yang tersenyum bijak, seorang ibu yang tersenyum lembut, seorang anak yang sama sekali tak tersenyum dengan arah mata yang tidak menuju kamera. Hm, bisa kubilang bahwa dia adalah Sasuke versi kecil. Lalu ada anjing Golden Retriever kecil. Itu pasti Yo. Dan Yo dipangku oleh Sasuke versi lebih besar dengan senyum riang. Eh…
"Ya, Naruto! Anak yang kau bicarakan itu adalah kakakku. Itachi. Dan dia sudah meninggal!"
-To Be Continued-
Baca Selengkapnya

Fuzzy Memory III

Chapter 3
"Apa yang kau lakukan
disini, bodoh?"
Sosok Sasuke nampak
begitu menjulang
dihadapanku karena aku
masih dalam posisi
berjongkok.
Mengingatkanku pada
potongan mozaik
mimpiku di adegan
pertama.
Aku langsung berdiri
tegak. Bagaimanapun,
aku tak mau dia
meremehkanku terus.
Tapi speechless juga.
Dia menangkap basah
diriku yang sedang
mengintipnya, lho!
Mengintip! Aku tak
kepikiran satupun
alasan untuk menjawab
pertanyaannya. Masa
aku harus bilang kalau
aku menguntit dia, sih?
"Kau tidak sedang
mengintai rumah orang
untuk mencuri kan,
Naruto?" lanjutnya.
"Apa? Sembarangan!
Justru aku yang berpikir
kau begitu! Rumah ini
kan sudah lama
kosong!" semburku yang
mulai terpancing emosi.
Heran, deh! Dia selalu
berhasil untuk yang satu
itu! Dengan tenang
Sasuke memegang
dagunya.
"Hm. Ini agak sulit! Aku
tak menyangka bahwa
ada anak SMU yang
bahkan masih tidak bisa
membaca," katanya
santai. Hiih! Dia sedang
meledekku, ya? Sasuke
berjalan ke arah papan
nama keluarganya dan
mengetuk-ngetuknya
dengan telunjuk. "Biar
kubacakan untukmu, ya
Bocah Buta Aksara! Ini
bacanya 'U-chi-ha'! Aku
tak terlalu cepat
mengejanya, kan?"
"K-a-u ini!" geramku.
Kenapa sih dia ini? Ada
yang konslet pada
otaknya apa? Jangan-
jangan dia itu penderita
double personality!
Begitu cepat
kepribadiannya yang
penuh tawa bersama
anjingnya berubah
menjadi menyebalkan
seperti ini! Yang
mengherankan, dia
selalu punya cara
membuatku mati kutu.
"Kau itu! Kenapa sih
selalu mencari gara-
gara denganku?"
tembakku. Dia
tersenyum sarkastis
seolah aku baru saja
melemparkan gagasan
yang konyol.
"Please, Naruto! Apa
untungnya aku mencari
gara-gara denganmu,
ha?" jawabnya dengan
nada mengejek.
"Terus kenapa kemarin
tiba-tiba menciumku?"
dia terdiam. Kali ini
alisnya berkernyit.
"Kenapa? Hah! Jangan
bilang itu yang pertama,
Naruto!" jawabannya …
tidak bisa kujawab.
"Jadi…kemarin itu yang
pertama untukmu?"
tanyanya dengan nada
tak yakin.
Saat aku tetap tak bisa
menjawabnya, tawanya
meledak.
"Ha ha ha! Ya, ampun!
Berapa usiamu, Naruto?
17 tahun dan belum
pernah … Oh, ya Tuhan!"
aku bisa merasakan
wajahku memanas. Aku
hanya bisa menebak
semerah apa wajahku
sekarang. Yang pasti
tampangku sekarang
makin membuat Sasuke
berada diatas angin dan
kalimat ejekan
berikutnya keluar lagi
dari mulutnya. "Kau
beruntung melakukan
'yang pertama'
denganku!"
Aku mengangkat wajah.
Tak tahu deh wajahku
sudah seperti apa. Yang
jelas tampangku kali ini
berhasil membuat
Sasuke membungkam
mulutnya.
"Kenapa jadi begini?
Kenapa jadi
menyebalkan? Padahal
dulu kau sangat
menyenangkan!" dia
terdiam mendengar
ucapanku yang
merupakan unek-unek
dari hatiku yang
terdalam. Karena itu
aku makin berani
melanjutkan. "Dulu aku
sangat menikmati
bermain bersama
denganmu. Kau juga
sangat baik. Tidak
seperti sekarang!"
"Tunggu! Kau ini
ngomong apa sih,
Naruto? Karena malu
kau sampai kehilangan
akal sehatmu, eh?"
bantahannya
membuatku terhenyak.
"Ka-kau…kau teman
masa kecilku, kan? Yang
dulu tinggal disini dan
mengundangku masuk
saat hujan. Setelah itu
kita selalu main sama-
sa …," ucapanku
terhenti melihat wajah
Sasuke yang tak
menampakkan
perubahan sedikit pun.
"Jadi kau berpikir bahwa
aku teman masa
kecilmu? Teman
kenanganmu? Asal kau
tahu saja! Aku baru
pindah kesini dan aku
tidak pernah tinggal
disini!"
"Ta-tapi…nama
keluarga kalian, fisik
kalian, dan-"
"Aku bukan dia siapapun
yang kau maksud! Aku
tak kenal kau sebelum
ini!" potong Sasuke. Dia
mendekat padaku dan
menatapku dengan
pandangan mengejek.
"Atau …jangan-jangan
kau berharap itu aku?"
Cih!
"Aku lebih bersyukur
kalau itu bukan kau!
Kupikir anak dalam
kenanganku itu
menderita amnesia atau
apa hingga dia jadi
seperti ini. Tapi
syukurlah kalau bukan!"
ujarku dengan nada dan
mata menantang.
Membuatnya akhirnya
menjauh dan tatapan
mengejeknya hilang.
Untuk sementara aku
merasa tensi dan
tekanan di sekitar kami
meningkat berpuluh-
puluh kali lipat. Seolah
jika salah satu diantara
kami bergerak lebih
dulu, maka siapapun dia
akan mati. Lalu …
GUK! GUK!
Aku terkejut begitu
anjing golden retriever
milik Sasuke
mengeluskan badannya
di kakiku. Dia ber-hah
hah dengan lidah
terjulur dan menatapku
dengan tatapan
meminta di belai. Ah,
kenapa anjing ini
kelihatannya tidak
takut ataupun
menyerangku seperti
yang biasa anjing lain
lakukan? Apa karena dia
sudah mengenalku? Ya,
aku ingat! Anak itu juga
punya anjing, tapi tak
sebesar ini. Apa mereka
anjing yang sama, ya?
Ah, aku lupa! Yang pasti
kelakuan anjing itu
telah melumerkan
suasana yang semula
sangat kaku.
"Yo! Kemari!" panggil
Sasuke. Yo, anjing itu
menatap ke Sasuke dan
aku bergantian dengan
bimbang. Tapi dia
langsung mendengking
aneh saat Sasuke
memelototinya.
Mungkin dia juga belum
pernah melihat wajah
majikannya seseram itu.
Yo berjalan
menghampiri Sasuke
dan berdiri di
sampingnya.
"Dengar ya, Naruto! Aku
tak ingin kau
menuduhku macam-
macam lagi! Sekali lagi
kutegaskan aku bukan
siapa-siapamu!
Lagipula…memangnya
kau pikir keluarga
bernama Uchiha hanya
kami saja? Banyak! Yang
harus kau ingat adalah
namanya, bukan? Apa
namanya Sa-su-ke? Itu
yang harus kau pikirkan
sebelum menuduhku!"
Nama? Ah, benar juga!
Aku …aku tak ingat
siapa namanya. Atau…
aku memang tak pernah
menanyakannya?
Entahlah!
"Kalau begitu…mau
sampai kapan kau mau
berdiri disitu? Aku tak
akan mengajakmu
masuk, lho!"
"Hih! Siapa juga mau
berlama-lama disini
bersamamu?" aku
memeletkan lidah dan
berbalik pergi. Aku
sama sekali tak sadar
kalau dibalik
punggungku, Sasuke
masih menatapku tanpa
ekspresi dengan berjuta
perasaan terperangkap
dalam hitam bola
matanya.
Untukku sendiri, entah
kenapa aku tetap punya
perasaan kuat bahwa
Sasuke terlibat dalam
ini semua. Aku …tak
berbohong waktu
kubilang akan lebih baik
jika anak itu bukan dia.
Tapi …dia terlalu
mencurigakan. Kalau itu
memang bukan dia …
kenapa menyangkal
dengan begitu
hebatnya?
XXX
"Sensei! Pokoknya aku
nggak mau satu
kelompok dengan dia!
Kenapa sih semua orang
memasangkanku dengan
dia!" protesku saat
kelompok belajar kelas
dibagikan. Dan lagi-lagi
aku dengan …cih!
Sasuke!
Aku menatap tajam
pada Sasuke yang
kelihatannya tak peduli
pada apapun. Dia hanya
berpangku tangan
dengan wajah jengah.
Membuatku tambah
sebal. Aku beralih lagi
ke Kakashi-sensei yang
seenaknya saja
mengelompokkanku
dengan orang itu.
"Karena aku dengar dari
beberapa guru lain
bahwa kalian kurang
akur, aku hanya mau
membuat kalian
semakin akrab saja,
kok!" jawabnya dengan
senyum yang …kali ini
terlihat sangat
menjijikkan.
"Alasan macam apa
itu?"
Dan lagi-lagi Kakashi
hanya menjawab dengan
senyum. Kelihatannya
dia senang sekali bisa
melihatku merasa
terganggu. Kenapa sih
semua orang berubah
jadi menyebalkan
beginiiiiiii?
"Nah! Tugas kelompok
kalian yang pertama …"
Kakashi melanjutkan
dengan cueknya.
Meninggalkan aku yang
masih berdiri dengan
tampang pucat pasi. Tak
kuasa untuk memprotes
lebih lanjut.
"Mudah-mudahan kau
tidak menjadi partner
yang terlalu bodoh
untukku, ya Bocah Buta
Aksara!" akhirnya suara
menyebalkan itu
membuka dan
membawaku pada
tingkat muak yang lebih
parah lagi.
XXX
"Kenapa sih kau anti
banget sama Sasuke?
Yah, meskipun aku juga
nggak suka dia, sih!"
tanya Shikamaru saat
kami berkumpul di atap
seperti biasa.
Aku diam.
Anti? Apa iya? Yah,
walaupun mengingatnya
selalu berhasil
membuatku emosi dan
kurasa lebih baik
menghindar, tapi disisi
lain, rasa tertarik yang
kurasakan padanya
sejak hari pertama dia
menginjakkan kaki di
sekolah ini pun terus
berlanjut. Kalau sedang
belajar di kelas, aku
masih suka mencuri-curi
pandang kearahnya.
Entah kenapa.
"Iya! Memangnya apa
sih yang sudah dia
lakukan padamu, eh
Naruto!"
Aku masih membisu.
Tapi pertanyaan dari
Neji itu jadi membuatku
mengingat kejadian
yang tidak ingin
kuingat. Darahku yang
mendidih saat
mengingat adegan di
halaman belakang pasti
telah membuat seluruh
wajahku memerah
sekarang.
"Kelihatan sekali lho
kau sangat
memusuhinya. Apa dia-"
"ARGH! Kenapa sih
kalian membahas dia
terus? Nggak ada topik
lain, apa?" teriakku
frustasi pada akhirnya.
Ketiga sahabatku hanya
bisa saling pandang. Aku
tidak peduli deh mereka
mau mikir apa! Apa aku
tidak bisa tenang satu
detiiiik saja untuk tidak
mendengar tentang si
brengsek itu?
"Hei, Naruto! Kenapa
kau nggak pakai
kesempatan ini,
sekelompok belajar
dengannya, untuk
membalas dendam?"
usul Gaara kali ini
berhasil membuat
kupingku menegak.
"Maksudmu?" tanyaku
dengan ekspresi
tertarik.
"Kita susun rencana
yang bisa membuatnya
keki seperti dirimu saat
ini! Soalnya kalau
kulihat, ya!
Pertengkaran kalian itu
cuma merugikanmu, lho
Naruto! Buktinya si
Uchiha itu santai-santai
saja sikapnya. Iya, kan?"
aku mengangguk-
angguk setuju. Benar
juga! Masa aku kebat-
kebit begini tapi dia bisa
tenang-tenang aja!
Manusia dingin!
"Wah, ide bagus itu
Gaa!" sambut Neji.
"Terus caranya?"
tanyaku lagi dengan
lebih antusias.
"Kalau itu sih…tanyakan
saja pada…," semua
mata kompak melihat
ke Shikamaru yang
kelihatannya sengaja
menghindar. Dia
terhenyak sebelum
akhirnya ber-itch kecil.
"Kenapa jadi aku, sih?
Merepotkan!" aku, Neji,
dan Gaara langsung
mengerumuninya sambil
merayu.
"Ayolah, Shika!
Tolonglah aku!"
"Iya, kau kan jenius!
Masa kau tak mau
menolong Naru?"
"Kau pasti punya cara
jitu! Kau nggak akan
membiarkan Naruto jadi
bulan-bulanan Uchiha
itu, kan?" aku berjengit
mendengar pernyataan
Neji. Apa-apaan itu? Ah,
sudahlah! Yang penting
sekarang …it's time to
revenge!
"IYA! IYA! BERISIK!"
akhirnya Shikamaru
menyerah. Aku dan dua
lainnya saling ber-high
five merayakan
keberhasilan kami.
Aku menatap langit
dengan penuh senyum.
Akhirnya …aku bisa
merasakan juga
indahnya pembalasan!
"Tapi Naruto…," aku
yang sudah terlanjur
senang, menatap ketiga
sahabatku itu dengan
heran.
"Kenapa?" balasku.
"Kalau minta tolong
pada kami …kau harus
konsultasikan
masalahmu dulu dengan
jelas," Neji menjawab
sambil menyeringai
kecil.
"Maksudnya?" aku
masih tidak mengerti.
"Ya…kau harus
ceritakan pada kami
ada apa antara kau dan
Sasuke. Dengan begitu
Shika bisa lebih mudah
menyusun serangan
balasan!" jelas Gaara.
Mataku membulat.
Mereka mau aku
bercerita tentang …
tentang…
Perutku langsung
bergejolak. Dadaku
langsung sesak. Mataku
langsung kabur.
Wajahku langsung
memucat. Dan …apalagi
ya? Pokoknya mereka
membuat keadaanku
lebih buruk ketimbang
menghadapi Sasuke
sendirian!
Mereka bertiga berdiri
mengelilingiku.
"Ya, ampun! Lihat yang
sudah dilakukan Uchiha
itu padanya! Baru kali
ini aku melihat Naruto
trauma dan syok
sebegitu parahnya!"
Aku sudah tak tahu lagi
siapa yang sedang
bicara.
Baca Selengkapnya

Fuzzy Memory

CHAPTER 2
"Apa yang kau lakukan disini sendirian? Apa kau tersesat?" aku mendongak ke asal suara di belakangku. Aku yang sedang berjongkok, membuat sosok itu terlihat sangat menjulang. Wajahnyatak begitu jelas. Yang bisa kupastikan hanyalah warna rambutnya yang hitam pekat. Aku tak menjawab pertanyaannya dan malah mendongak ke langit. Ke tempat air-air yang berderai sembarangan itu berasal. Hujan. Kurasa itu yang membuatku berada disini. Berteduh di bawah rumah besar sebuah keluarga … entahlah. Aku belum bisa membaca papan tulisan di depan rumah ini. "Oo…kau mau
berteduh? Bagaimana kalau berteduh di dalam saja?" tanya sosok itu lagi. "Boleh?" aku balik bertanya. "Kenapa tidak? Apa kautinggal di dekat sini?" kali ini aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan. "Baiklah, kalau begitu, mari masuk!" Aku berdiri dan mendapati diriku hanya setinggi ketiaknya. Aku berdiri ragu di belakangnya dan agak kaget saat dia berbalik. "Aku lupa bawa payung, jadi …kita lari saja ke teras, ya!" tanpa sempat menolak, dia menarik tanganku dan kami pun berlari menentang hujan. Rumahnya besar. Banyak barang mewah tapi sepi. Aku sama sekali tak melihat ada orang lain selain kami. Jadi kepikiran. Jangan- jangan dia…vampir! "Keringkan dulu badanmu di depan perapian. Kelihatannya bajumu agak basah. Akan kubuatkan coklat panas. Tunggu, ya!" dan dia pun menghilang
tertelan koridor rumah yang bercahaya sendu ini. Akhirnya, sambil menunggu hujan reda, kami main berdua. Mainannya banyak. Robot, mobil-mobilan, puzzle, scrabble (aku tak begitu mengerti bagaimana memainkannya), dan ah, aku tak bisa menyebutkannya satu persatu. Pokoknya rasanya… menyenangkan. Persahabatan kami berlanjut. Hampir setiap hari aku bermain dengannya meskipun hanya di taman. Aku tak tahu kenapa dia tak pernah mengajakku ke dalam rumahnya lagi, tapi aku tak peduli. Yang penting aku bisa bermain dengannya. Bersamanya …entah kenapa terasa…hangat. "Naruto! Lempar bolanya!" teriaknya padaku. Aku menurut dan dia berlari mengejar bola yang kulempar. Kurasa dia tersenyum. Entahlah. Wajahnya kabur. Tapi suara tawa renyahnya terdengar
jelas ditelingaku saat dia berjalan semakin mendekat. Sekarang dia berdiri dihadapanku. Saat aku mendongak, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan … Menciumku! Saat dia melakukan itu, wajahnya semakin jelas. Dan dia… HUAAA! Aku terduduk dari tidurku dengan peluh berleleran dan napas terengah-engah. Mimpi apa itu? Daripada mimpi, itu lebih seperti putaran memori yang sudah lama tersimpan di alam bawah sadar dan terpicu untuk keluar. Tapi di bagian terakhir … Cih! Kenapa yang muncul dia? Orang menyebalkan itu! Bahkan dia menebarkan teror dan mimpi buruk dalam tidurku. Orang menyenangkan dalam masa laluku itu …tak mungkin dia, kan? Walau kesal, entah kenapa aku merasa wajahku memanas saat memikirkan tentang si brengsek itu. Aih! Aku ini kenapa, ya? "Narutoooo! Turuuuun! Tolong belikan sesuatu di mini market!" suara bawel itu! Aku sama sekali tak mood untuk mendengarnya setelah mimpi buruk begini. Tapi si pemilik suara itu pasti akan tambah nyerocos tak karuan kalau aku tak segera menjawab. "Iya, Nek! Tunggu sebentar!" balasku. Dengan enggan aku mendorong selimut dengan kakiku. Kuangkat weker di meja lampu tidur dan sadar bahwa aku bangun lebih pagi dari biasanya jika hari libur. Sambil menggaruk kepala, gerutuanku keluar. "Baru jam segini sudah menyuruh-nyuruh! Padahal kan dia tahu jam bangun tidurku kalau liburan begini." Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, aku mengganti celana pendekku dengan jeans dan setelah mempertimbangkan bercak-bercak keringat di kausku, kuputuskan menggantinya juga.  Walaupun hari ini cerah, aku tetap menyambar jaketku dan melesat keluar kamar. Kudapati nenekku, Nenek Tsunade, tengah memasak sesuatu di dapur. Aku berdiri disampingnya dan berlagak seperti mandor yang tengah menginspeksi pekerjaan karyawannya. "Telur dadar lagi?" tanyaku. "Pantas saja Kakek lebih suka mengajakku makan ramen Ichiraku!" "Hei! Kau mau merasakan ini? Ini dihasilkan dari banyak makan telur, tahu!" Nenek Tsunade mengepalkan tinjunya padaku. "Juga wajah awet muda ini!" Memang sih dia tetap terlihat muda meskipun umurnya hampir 70. Tapi soal telur …teori dari mana itu? Daripada bertengkar mulut dengannya pagi-pagi begini, lebih baik mengalah. "I …iya!Maaf!" "Tumben kau sudah bangun," Nenek Tsunade berkonsentrasi lagi pada fry pan-nya. "Mimpi buruk," jawaban singkatku membuat Nenek Tsunade langsung berpaling ke arahku. "Mimpi apa? Orangtuamu?" aku menggeleng. Benar juga. Terakhir kali aku bermimpi buruk adalah saat aku berumur 4 tahun. Mimpi buruk di detik-detik terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuaku dan nyaris pula diriku. Setelah itu aku tinggal bersama kakek dan nenekku. Kejadian itu membuatku trauma cukup lama dan sampai usiaku hampir 7 tahun. Saat aku bertemu dia. "Tidak penting. Terus, apa yang harus kubeli?" mendengar jawabanku, Nenek Tsunade akhirnya memutuskan untuk berhenti bertanya. Dia menyodorkan daftar belanja. "Ini list-nya. Ini uangnya. Yang kuberi tanda centang itu bahan yang penting! Cari sebisamu, pokoknya harus ada!" "Iya, iya. Eh!" Sniff. Sniff. Aku mengendus-endus dengan hidungku.Sepertinya ada bau yang tak sedap."NEK! NENEK! ITU!" tunjukku pada fry pan yang sudah mendesis- desis dengan telur gepeng yang menghitam. "GYAAA! TELUR DADARKUUUU! GRRR! Fry pan sialan! Kompor tak tahu diuntung! Telur tidak tahu berterima kasih!" omelnya. Sebelum amarahnya berpindah padaku, aku langsung mengambil
langkah seribu untuk pergi dari sana. Dasar nenek-nenek tukang naik darah! Angin pagi semilir dan matahari cerah dengan cahayanya yang lembut, menyambut diriku saat keluar dari pintu. Rasanya seperti mau berangkat sekolah saja. Sebelum melangkah, kuhirup napas dalam-dalam dan
mengayunkan kaki dengan ringan menujumini market 24 jam dua blok dari sini.
XXX
Wortel, check!Jamur, check! Daging sapi, check! Roti tawar, check! Tepung, check! Kue beras, ch…eh? Kue beras? Dasar nenek- nenek! Ah, pokoknya semua belanjaannya sudah lengkap. Sekarang waktunya membayar semuanya. Aku berjalan menuju ke kasir. Namun langkahku terhenti begitu melihat siapa yang sedang berdiri di kasir. Si brengsek itu! Sasuke! Dia berdiri sambil melihat-lihat benda- benda yang dipajang di sekitar meja kasir dengan tampang yang … yeah sudah pasti datar mendekati memuakkan dan mulutnya sibuk mengulum chewing gum.Kasirnya pergi entah kemana dan kelihatannya dia sedang menunggu. Aku langsung menundukdibalik salah satu lemari barang saat diamemutar matanyakearahku. Pokoknya akutak mau ketemu dia! Dan aku selamat! Tak lama kasirnya muncul membawa sebotol, eh? Bir? Apa- apaan itu? Memangnya anak sekolah seumuran kami ini sudah diperbolehkan membelibenda seperti itu? Tapipaling tidak aku tahu satu hal. Sasuke itu memang anak yangtidak beres. Jangan- jangan dia itu korban perceraian atau children
abuse hingga ada yang salah pada otaknya! Setelah membayar, Sasuke beranjak pergi dari mini market diiringi bunyi klontang yang berasal dari gantungan di pintu. Aku langsungkeluar dari
persembunyianku dan membayar belanjaanku di kasir. Tunggu! Kalau Sasuke belanja disini, berarti …dia tinggal di dekat-dekat sini, dong! "…an? Tuan?" aku tersadar dari lamunanku akibat suara si kasir. "Eh, iya. Apa?" tanyakuyang gugup tapi masih mencoba untuk tersenyum. "Apa ada barang lain
yang Anda butuhkan?" "Ah, tidak!" gelengku cepat sambilmengeluarkan uang. Kasir itu langsung
bekerja cepat sementara aku lebih tertarik melihat jalanan. Setelah menerima bondan kembaliannya, aku pun bergegas keluar. Waktu aku melempar pandanganku ke kananjalan, alangkahterkejutnya aku karena masih melihat Sasuke ada disana. Berdiri di samping lampu jalan sambil komat-kamit menggenggam ponsel. Akan lebih bijak seandainya saja aku memutuskan berlagak tak mengenal dia dan berjalan pulang karena arah kami berlawanan.Tapi apa yang akhirnya kulakukan? Aku malah masuk kembali ke dalam mini market. Setelah minta permisi untuk menunggu disana, mataku tak lepas dari sosok Sasuke yang kini mulai bicara sambil mondar-mandir. Hih! Lagaknya itu! Tak lama dia berjalan ke arah …hah? Ternyata dia pergi ke arah yang searah dengan rumahku! Jangan-jangan … Lagi-lagi aku membuat pilihan yang tidak bijak dengan …menguntit Sasuke. Aku tak tahu kenapa aku harus melakukan tingkah konyol ini, tapi aku benar-benar ingin tahu.Aku ingin tahu tentang dia. Paling tidak aku harus tahu kenapa dia menciumku dengan tiba- tiba di halaman belakang sekolah kemarin! Sial! Sial! Kenapa wajahku malah jadi panas karena mengingatnya? Dia nampak tak peduli dengan sekitarnya termasuk aku yang bolak-balik sembunyi di samping tiang listrik, di balik pagar rumah
orang, dan di belakang tempat sampah. Baguslah. Tapi …dia benar-benar berjalan di jalan yang menuju rumahku, lho! Ah! Dia berhenti! Kenapa? Apa kami sudah sampai dirumahnya?Dia berjongkok. Karena dia membelakangiku, aku tak tahu pasti apa yang dia lakukan. Tapi dari gerakannya sih,kayaknya dia sedang membetulkan tali sepatu. Tuh, benar kan! Sekarang dia sudah berdiri lagi dan melanjutkan perjalanannya. Heran, deh! Kenapa waktu tempuh ke rumah yangbiasanya hanya beberapa menit dari mini market jadi terasa lama begini? Akhirnya Sasuke berbelok ke kiri. Fiuh! Syukurlah karena rumah kami ternyata tidak benar-benar searah. Aku
terlalu sibuk bersyukur sebelum menyadari betul bahwa Sasuke sedang membuka pintu kayu sebuah rumah besar. Rumah besar yang setahuku sudah kosong selama bertahun-tahun. Apa dia penghuni barunya? Lagipula rumah itu kan … Aku berlari kecil ke depan rumah itu saat Sasuke sudah tertelan sepenuhnya ke dalam gerbang. Mataku membulat begitumenyadari bahwa rumah itu …rumah itu adalah rumah yang dulu ditempati oleh 'dia'! Oleh anak dalam kenanganku itu! Tiba-tiba mimpiku tadi malam berputar lagi dalam pikiranku. Sudah kubilang kan kalau ini bukan mimpi! Kudekati tampilan rumah itu yang masih nampak sama dengan waktu itu. Saat itu aku bermain di lapangan tak jauh dari rumah ini dan terjebak hujan yang turun tiba- tiba. Akhirnya aku berteduh disini. Disatu- satunya rumah dengan gerbang bergenting. Dan bagian terbaiknya, aku bisa bertemu dengannya. Tapi anak itu pindah tanpa sepengetahuanku. Setiap aku kemari, yang kudapati hanya kekosongan. Seiring waktu, aku pun akhirnya berhenti penuh untuk bolak-balik melihatkemari. Aku tak tahu kalau rumah ini
ternyata sudah ditempati orang lain. Dan itu adalah keluarga Sasuke. Lagipula … Sasuke kan baru pindah ke sekolah kemarin. Berarti, dia juga baru pindah ke rumah ini juga, dong! Kudekati papan nama keluarga yang terpaku di dinding pagarnya. Uchiha. Benar. Itu nama keluarga Sasuke, kan? Tapi …kenapa tulisan itu terlihat…familiar? Aku tak begitu peduli tentang bagaimana nama Uchiha ditulis. Setidaknya sampai detik ini. Tapi aku tak dapat menyembunyikan keterkejutanku saat ini.
Saat dimana aku menyadari bahwa tulisan dihadapanku ini sama persis dengantulisan keluarga yang ada di mimpiku. Tulisan yang saat itu belum bisa kubaca! Jujur, aku merasa sedikit merinding. Semua
kebetulan ini benar- benar membuatkuberpikir yang tidak- tidak. Kalau begitu …apabenar kalau Sasuke adalah anak dalam kenanganku itu? Tapi mana mungkin? Anak dalam kenanganku begitu baik, tapiSasuke…blah! Boro- boro! GUK! GUK!HAHAHAHA! Terdengar suara gonggongan anjing dan …suara tawa yang kuragukan milik Sasuke, dibalik pagar. Jadi penasaran. Jangan- jangan yang sedang tertawa itu … Ah! Tuhan memang baik! Pintu kayu rumah itu tidak ditutup dengan rapat. Kuintip keadaan dalam rumah dari sela pintu kayu. Aku tak begitu banyak mendapatkan view selain rumput Jepang yang dipangkas sempurna. Tak lama sebuah ranting melayang melintasi batas penglihatanku, disusul seekor anjing yang sibuk menggonggong untuk menangkapnya dan akhirnya dikejar lagi oleh pemiliknya. Si pemilik suara tawa yang tadi kudengar. Itu Sasuke! Sasuke, lho! Sasuke yang itu! Dia berdiri dengannapas terengah-engah tepat di depan mataku. Tapi senyumnya tetap setia tersungging dibibirnya. Senyum? Aku harus mengucek mataku tiga kali untuk bisa mempercayainya. Anjingnya datang membawa ranting dimulutnya dan menerjang Sasuke hingga si raven itu terjatuh diatas rumput. Dengan semangat anjing itu menggonggong dan menjilat seluruh wajah Sasuke dan dia … tertawa! Tertawa dengan begitu lepas. Ah, kenapa dia memasangtampang yang dinginkalau dia punya wajah yang sangat manis saattertawa? PLAK! PLAK! PLAK!Apa yang kau pikirkan sih Narutoooooooo! Eh, lagipula kalau kulihat-lihat …bukankah dia punya tawa yang sama dengan anak itu? Sekarang rasanya aku mulai bisa mempercayai kemungkinan bahwa anak dalam kenanganku itu adalah Sasuke. Tapi …kenapa dia pura-pura tak kenal? Kenapa dia menjadi sinis padaku? Padahal dulu kan dia baik. Baik sekali malah! Karena sibuk dengan pikiranku sendiri, aku tak sadar bahwa anjing golden retriever besar itu berlari-lari ke arahku. Bahkan aku tak mendengar gonggongannya yang menggema. Aku baru sadar sepenuhnya saat pintu kayu didepan hidungku terayun membuka. Mau kabur pun rasanya sudah terlambat karena sekarang …detik ini… Sasuke telah berdiri dihadapanku dengan wajah flat-nya yang biasa. Dengan deathglare yang berhasil membuatku menelan ludah, akhirnya dia membuka suaranya. "Apa yang kau lakukan disini, Bodoh?"
Baca Selengkapnya

Fuzzy Memory

Chapter 1
Drip! Drip! Drip! Pemuda berambut pirang itu berpangku tangan dengan malas sambil menatap jendela yang disiram titik-titik air hujan. Hujan … memang menimbulkan efek yang menentramkan.
Membuatnya teringat pada peristiwa di masa lampau. Peristiwa yang sudah lama terlupa dan entah kenapa kembali sekarang. Sebuah kenangan dan masa- masa menyenangkan dengan seseorang. Siapa? Cinta pertamanya kah? Atau… GRAK! Pintu kelas bergeser membuka. Suasana kelas yang semula ramai berubah sepi. Apa itu berpengaruh padanya? Tidak sama sekali. Hujan dan 'orang dalam kenangannya' lebih menyedot perhatiannya saat ini. Bagaimana pun juga gurunya ini tak patut menyalahkannya atau siapapun di kelas ini jika mereka tidak memperhatikan. Guru tukang telat ini sudah memberinya kesempatan untuk berkhayal dan sudah menjadi resikonya kalau anak-anak murid lainnya sudah terlanjur asyik dengan kegiatannya masing-masing. "Selamat Pagi, Anak- anak!" sapa guru itu dengan senyum yang membuat matanya menghilang. "Selamat siang, Kakashi- Sensei!" jawab anak- anak setengah hati. Yang dipanggil Sensei, alias Kakashi, hanya bisa garuk-garuk kepala. "Baiklah! Hari ini kelas kita kedatangan anggota baru. Ayo, silahkan masuk!" seorang berseragam
sekolah masuk dari pintu saat Kakashi menginspeksi muridnya satu persatu. "Hei, Naruto! Jangan melamun sendirian!" tegur Kakashi, guru fisika sekaligus wali kelasnya. Teguran itu membuat pemuda
bernama lengkap Naruto Uzumaki itu menoleh ke depan kelas dengan terpaksa. Tapi mata birunya langsung melebar saat dia melihat siapa yang berdiri di samping Kakashi. Sosok tampan dengan tampang datar dan kulit putih yang entah kenapa membuatnya terlihat… dark? Apa karena
rambut jetblack jabriknya yang di gel dan bola matanya yang hitam? Ah, dia… Siapa, ya? "Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru. Mulai hari ini dia akan menjadi anggota kelas kita. Namanya
Sasuke Uchiha. Silahkan kau perkenalkan dirimu!" buka guru fisika nyentrik itu. Anak bernama Sasuke itu maju selangkah dari tempatnya semula. "Namaku Sasuke Uchiha. Aku baru pindah
dari Hokaido," ujarnya singkat. Entah kenapa Naruto yang tak pernah terlalu mempedulikan sekitarnya jadi memberikan perhatian penuh pada sosok asing itu. 'Jadi dia dari Hokaido? Pantas kulitnya pucat,'
pikir Naruto. "Nah, kalau kalian mau bertanya lebih lanjut tentang Sasuke, kalian dapat melakukannya nanti. Toh, kalian akan bersama-sama di kelas ini beberapa bulan ke depan," ucapan Kakashi- sensei membuat kelas gaduh untuk beberapa saat. Yah, memangnya Kakashi akan peduli? Jawabannya, tentu tidak! Dengan cueknya dia melanjutkan. "Kalian harus membantu Sasuke selama disini, ya! Dia sudah ketinggalan pelajaran, lho! Nah, Sasuke, kau bisa duduk di kursi kosong belakangsana. Di belakang Shikamaru," Kakashi menunjuk ke meja di belakang anak berambut rumput yang mencibir sambil menopang pipinya dengan tangan kanan. Tanpa mengatakan apapun, Sasuke berjalan menuju meja barunya. Selama sosok itu berjalan, Naruto tak dapat melepaskan pandangan darinya. Entah apa yang sudah mendorongnya untuk melakukan hal yang tak wajar untuknya tersebut, tapi dia juga tak punya hasrat untuk mencari tahu. Pokoknya yang dia tahu hanya bahwa matanya tak boleh kehilangan sosok mitu. Dan alangkah kagetnya dia saat si anak baru itu menoleh mkearahnya tiba-tiba. Menusuknya dengan mpandangan dingin yang sama sekali tak dapat di mengerti oleh Naruto.
XXX
Saat istirahat, Naruto memutuskan untuk menghabiskan waktu di atap sekolah. Tempat favoritnya bersama ketiga sahabatnya. Hanya saja kali ini dia sedang ingin sendirian. Dia menatap langit mendung tanpa mempedulikan celananya yang basah karena duduk di lantai semen bekas hujan sebelumnya. Sebenarnya dia mau menghindar dari keriuhan yang diakibatkan oleh anak baru itu. Mejanya tak ubahnya seperti meja tukang ramal saat tahun baru. Ramai. Teman sekelas mereka berebut bertanya padanya satu persatu. Apalagi anak- anak ceweknya! Herannya, Naruto tak begitu peduli saat Sakura Haruno, cewek yang sejak SMP ditaksirnya ikut-ikutan nimbrung di meja Sasuke dengan matanya yang sudah berbentuk lope-lope. Dia malah lebih mempedulikan anak baru itu! Sasuke. Karena itu dia mencoba menghindar agar sosok flat itu tidak bermain dipikirannya setiap saat setiap waktu. Tapi semakin menghindar, kenapa malah jadi kepikiran, ya? Ada yang aneh dengan anak bernama Sasuke itu. Kenapa dia kelihatan familiar? Deritan pintu dibalik punggungnya membuatnya menoleh. Shikamaru si rambut rumput, Neji yang tak berpupil, dan Gaara si rambut merah muncul dari baliknya. Mereka tak merasa heran mendapati Naruto ada disana. Bagaimana pun
juga tempat ini adalah tempat favorit mereka berempat. "Disini kau rupanya! Kenapa kau meninggalkan kami?" seru Neji yang kini sudah berdiri di hadapan Naruto dan dua yang lainnya mengapit di samping kanan dan kirinya. "Kupikir kalian mau say hai pada Uchiha baru itu," jawab Naruto asal. "Haah! Mejanya lebih parah daripada festival obon. Penuh. Berisik. Merepotkan," jawab Shikamaru. "Kau kan ketua kelas! Harusnya kaumengamankannya, dong!" ujar Gaara pada si rambut rumput. "Haah~ itu kan Kakashi yang seenaknya saja menyuruhku jadi ketua kelas! Kau tak tahu betapa itu sangat merepotkan, sih!" "Hei, Naruto! Dari tadi kau diam terus. Tumben," Neji yang malas ikut campur dengan obrolan Shikamaru dan Gaara bertanya to the point ke Naruto. Naruto menghela napas. Benar juga. Biasanya kalau istirahat begini dia kan suka maju ke depan kelas, menyanyi- nyanyi nggak jelas dan bikin keributan. Tapi kali ini dia malas. Dia ingin benostalgia dengan kenangan lamanya. Kenangan bersama seorang anak lelaki yang hanya diingatnya samar-samar. Yang menjadi pusat masa kecilnya bertahun- tahun yang lalu. Mungkin saat itu usianya belum genap 6 tahun. Walaupun dia tak bisa mengingatnya dengan baik, tapi ternyata dia memang tak diizinkan untuk
melupakan anak itu seutuhnya meskipun setahun lagi dia sudah lulus SMU. Herannya, intensitasnya mengingat masa lalunya itu jadi lebih sering belakangan ini. Dan entah kenapa, image Sasuke sangat mendekati memori Naruto tentang anak lelaki dalam kenangannya. Apa itu memang dia? "Hei, Naruto! Kau mendengarkanku nggak sih?" tanya Neji yang sadar kalau Naruto sama sekali tak
memperhatikan ucapannya. "Ha? Apa?" "Ih! Kau kenapa sih? Dari pagi aneh, deh!" celetuk Gaara.
"Ah, biasa saja. Cuma kepikiran sesuatu. Eh, ngomong-ngomong, makan, yuk! Aku lapar!"
Naruto mengelus perutnya yang mulai sibuk mengetes biola. KRIYEIGRUUUUK! Begitulah bunyinya. "Rameeeen! Aku datang!" "Kayaknya Hinata membuat bekal buatmu lagi, deh!" kata Neji. "Ha?" Naruto mendongak ke arah Neji dengan alis berkernyit. Hinata adalah adik sepupu Neji yang menyukai Naruto. Semua anak di kelas tahu itu. Hanya satu orang yang tak mengetahuinya dan itu
adalah Naruto sendiri. Karena itu reaksi Naruto waktu mendengar ucapan Neji adalah menggaruk- garuk pelipis. Mencoba mengingat bantuan apa yang sudah diberikannya pada gadis itu sampai dia membuatkannya bekal seminggu ini berturut-turut. "Kenapa Naruto? Kalau kau berniat untuk nggak
menerimanya …," Neji mengepalkan tinjunya di depan hidung Naruto. "Ha? Iya! Iya!" ujarNaruto akhirnya sambil bangkit dari duduknya.
XXX
Pelajaran olahraga, dimana mereka diwajibkan mempraktekkan senam secara berpasangan, Naruto harus kebat kebit lantaran dipasangkan dengan Sasuke. Dia tak tahu apa yang membuatnya grogi dan nervous. Dia adalah seorang biang keladi. Banci tampil. Dan tak ada seorang pun yang bisa menginterupsi ulahnya jika dia sudah berdiri di depan banyak orang. Tetapi kali ini, dia tak ubahnya seperti ikan paus yang terdampar di pantai. Mati gaya! Walaupun sudah didaulat untuk berpasangan, yang pasti akan dinilai dari kekompakan, Naruto dan Sasuke tak bergeming untuk berbaur dan berlatih seperti teman-teman mereka yang lain. Bukannya Naruto tak ingin menghampiri Sasuke dan
mengajaknya ngobrol sebentar sebelum mulai latihan. Hanya saja … dia merasa sangat… gugup untuk menyapa kawan barunya tersebut. Naruto menghela napas panjang dan mengubah arah pandangannya dari Sasuke ke pasangan yang sedang dinilai di tengah lapangan. Rock Lee dan Neji. Mereka melakukan senam itu dengan cara aneh yang super duper tidak kompak. Rock Lee begitu semangat menyeret-nyeret Neji kesana kemari sementara Neji, dengan tampang malas- malasan, hanya bisa pasrah mengikuti kemana pasangannya melangkah. Naruto tak mau nanti dia harus berakhir begitu. Dia menyukai guru olahraga mereka dan itu membuatnya bersemangat untuk melakukan yang terbaik dalam pelajaran ini. Akhirnya dengan kebulatan tekad dan hati, Naruto melangkah menuju Sasuke yang tengah duduk di pinggir lapangan. Juga tengah serius-atau-bosan melihat cara kerja dua pesenam amatiran yang sedang tampil. "Hai! Kurasa kita juga butuh latihan sebelum maju nanti!" Naruto menghampiri dan duduk di sebelah Sasuke. Sasuke menoleh dan memberikan Naruto sensasi aneh yang membuat dadanya berdesir. 'Ya, ampun! Kau kenapa sih, Naruto! Kau bahkan belum genap 3 jam mengenalnya, kan?' maki si pirang dalam hati. "Memangnya kau nggak bisa melakukannya dengan benar kalau tidak latihan? Bodoh!" jawab Sasuke dingin.
TRING! Wajah Naruto berubah. Darahnya yang semula memompa hebat  ke jantung dan membuatnya berdebar, kini langsung naik ke kepala. "Apa! Dasar tidak punya sopan santun!" pekik Naruto. Membuat semua mata terarah padanya. Bahkan Rock Lee yang tengah menggendong Neji di punggungnya pun menghentikan aktivitasnya. Neji hanya bisa meronta-ronta sambil berteriak
'Turunkan aku! Turunkan aku!' Naruto tak mempedulikan pandangan menghakimi kawan-kawannya terutama dari anak- anak cewek. Saat ini dia sedang berurusan dengan si rambut hitamdihadapannya. Bukan mereka. "Naruto, kau ini apa- apaan, sih?" tanya Iruka-sensei, guru olahraga mereka. Naruto ganti memberikan pandangan tajam pada beliau. "Aku nggak mau dipasangkan sama orang macam dia!" teriak Naruto sambil mengacungkan telunjuk pada Sasuke yang sudah bangkit berdiri. Kali ini
si raven itu menatap Naruto dengan pandangan yang lebih dingin dari yang tadi pagi. "Sekarang giliran kita. Kalau kau masih mau merengek, jangan halangi kami untuk melanjutkan pelajaran. Bodoh!" katanya tak kalah dingin dengan sorot mata tajamnya. "K-hau!" geram Naruto. "Sudahlah! Kalian ini   apa-apaan, sih? Sebagai teman satu tim, harusnya kalian kerja sama, kan?" lerai Iruka-sensei. "Tapi dia yang mulai, Sensei! Kau dengar sendiri apa yang dia katakan padak-?" "Sudah!" Iruka-sensei memotong Naruto dengan galak. "Kalian berdua kuhukum! Selagi jam pelajaranku dan kami semua berolahraga, aku mau kalian membersihkan seluruh halaman belakang sekolah!" Naruto syok mendengar suara Iruka-sensei yang menggelegar. Dia adalah guru penyabar yang belum pernah sekalipun marah meskipun statusnya adalah guru olahraga yang seharusnyaterkenal killer. Kalaudia bisa berteriak keras begitu, pasti dia serius. Naruto menatap Sasuke sambil menggigit bibirnya dengan geram. "Apa? Kau lihat apa yang sudah kau lakukan? Bodoh!" pancing si raven. "KAU INI!" teriak Naruto lagi. "NARUTO! SASUKE! CUKUP! Sekarang lakukan saja hukuman kalian!" setelah mendengar nada murka Iruka-sensei untuk kedua kalinya, Naruto terdiam sambil mengepalkan tangan sementara Sasuke mulai berjalan meninggalkan lapangan diiringi tatapan teman-teman sekelas mereka.
XXX
"Kau tahu! Ini semua gara-gara kau!" omel Naruto sambil menyapu dedaunan dengan tidak ikhlas. Membuat pekerjaannya jadi percuma karena daun yang sudah tertumpuk rapi jadi berantakan lagi
saat dia melampiaskan kekesalannya. Yang diajak bicara, Sasuke, diam seribu bahasa. "Sudah capek mengataiku? Lidahmu dicuri kucing, eh, Uchiha?" Naruto makin berani berkoar-koar. Sasuke menghentikan pekerjaannya menyerok sampah. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menghampiri Naruto. Dia merenggut lengan Naruto dengan kasar dan mendesak si
mata biru itu ke pohon di belakangnya. "AW! Kau ini apa- apaan!" Naruto mencoba melepas cengkeraman Sasuke, tapi ternyata dia kuat juga. Sasuke tak berhenti disitu begitu saja. Tangannya yang bebas menangkap dagu Naruto dan yang selanjutnya terjadi adalah sesuatu yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh si pirang bermata birutersebut. Sasuke menciumnya.Ciuman yang panas dan berapi-api hingga Naruto merasa jiwanya tersedot keluar saatbibir Sasuke melumat miliknya. Membuat seluruh tubuhnya terasalemas dan tak berdaya.Beberapa saat kemudian, Sasuke melepasnya. Membiarkan Naruto yang masih syok melorot duduk dengan warna merah parah di seluruh wajahnya. Jejak air liur menggantung diujung bibir kanannya yang tengah menganga. Lututnya terasa lemas dan kepalanya terlalu kosong untuk bisa memprotes apa yang baru saja dilakukan oleh
teman sekelas barunya tersebut. Bagaimana pun hal itu bisa disebut sebagai pelecehan, kan? "Bukan kucing yang mencuri lidahku. Tapi kau!" ujar si rambut hitam dengan nada mengejek sebelum meninggalkan Naruto sendirian disana. Saat mulai bisa bergerak, yang pertama kali Naruto lakukan  adalah menghapus jejak liur dibibirnya. Dipandanginya lama. Ituadalah bukti nyata bahwa hal yang tadi, yang ingin dia anggaphanya ilusi belaka, benar-benar nyata. Itu adalah ciuman pertamanya. Dan ciuman pertamanya berakhir tragis di bibir seorang lelaki juga? Naruto menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Merasa bahwa setelah ini dia tak akan sanggup kembali ke kelas dan bertemu dengan pria yang mencuri first kiss-nya. Sasuke Uchiha.
Baca Selengkapnya