Rukia Engagement

Chapter 1
Rukia berjalan dengan kepala tertunduk sambil menendang kerikil kecil. Hari ini dia sengaja memisahkan diri dari rombongan dalam perjalan pulang sekolah. Ichigo, Inoue,Iishida, dan Sado sibuk berceloteh ria. Isi kepalanya dipenuhi oleh kejadian semalam.
Kemarin malam, kakanya Byakuya nii-sama memanggilnya. Nii-sama yang selalu sibuk tiba-tiba datang ke karakura town dan mengajaknya makan malam. Sesuatu yang luar biasa mengingat bagaimana sikap kakaknya selama ini. Byakuya memang peduli padanya, tapi sebisa mungkin dia selalu bersikap seolah acuh tak acuh pada dirinya.
'Ada hal penting yang ingin kubicarakan,' kata Byakuya setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka di sebuah restoran eropa mewah.
'Apa itu?' tanya Rukia sopan.
'Sudah waktunya kamu menikah!' katanya tenang nyaris tanpa ekspresi.
Rukia nyaris melonjak berdiri dari kursinya, untungnya dia masih bisa menahan diri, menahan rasa shock-nya dan tidak mempermalukan kakaknya.
'Kenapa tiba-tiba?'
'Memang tiba-tiba, sebenarnya, seminggu lalu, ada seorang pemuda di dampingi ibunya dari keluarga terpandang datang kepadaku. Pemuda itu mengatakan, dia ingin melamarmu. Sudah lama dia mengenalmu dan jatuh cinta padamu.'
'Nii-sama, aku harus menerima lamarannya?' Rukia bicara dengan nada sedikit bergetar.
'Kalau tidak ada orang yang kamu suka, tidak ada salahnya bertemu dengannya.'
Rukia terdiam. Begitu juga dengan Byakuya. Byakuya bisa menebak, adiknya pasti tidak suka dengan perjodohan konyol ini. Dia sendiri juga tidak ingin menyampaikan berita ini, sayang takdirnya sebagai salah seorang anggota keluarga bangsawan Kuchiki tidak mengijinkannya.
Begitu mendengar Rukia dilamar oleh pemuda dari keluarga terpandang, satu persatu para tetua dia keluarga Kuchiki mendesaknya untuk menerima perjodohan itu. Byakuya bisa memahami mengapa mereka melakukan semua itu. Rukia hanya seorang gadis jelata yang beruntung diadopsi tidak memiliki darah bangsawan di tubuhnya. Dan bagi para anggota keluarag Kuchiki dan para bangsawan lainnya hal tersebut adalah aib besar. Maka kalau ada seseorang dari keluarga terpandang yang sudi menikahinya, bagi mereka itu seperti oase di tengah panasnya gurun. Rukia, duri dalam daging yang harus segera dibuang!
'Aku akan mempertimbangkannya,' akhirnya Rukia buka mulut juga.
'Aku tidak ingin memaksamu, kalau ada orang lain yang kamu sukai, dan dia cukup layak untuk menjadi pendampingmu, aku tidak keberatan! Bawalah dia, akan kubatalkan perjodohan ini!' saran Byakuya bijak.
Byakuya tahu dengan persis siapa laki-laki yang berhasil merebut hati adiknya. Tapi laki-laki tidak tahu diri itu menyia-nyiakan perasaan adiknya. Sekarang semuanya terserah Rukia dia akan memilih siapa. Lagipula lelaki yang melamar Rukia juga tidak buruk. Dia tampan, mapan, dewasa, bijaksana, dan dia salah seorang taichou dari gotei-13.
'Besok malam, pulanglah kerumah, aku sudah mengadakan jamuan makan malam untuk kalian.'
'Ya, Nii-sama,' Rukia mengangguk pelan.
'Rukiaa…,' panggil ichigo.
Lamunan Rukia buyar sudah. Dia mengangkat wajahnya, memandang sosok Ichigo yang menatapnya bingung.
'Hari ini kau salah makan apa?' ledek ichigo.
'Hari ini ya…,' Rukia tampak berpikir, tadi pagi dia sarapan di rumah ichigo. Seharusnya tidak ada masalah, 'Ah… tadi siang aku makan roti bekal punya Inoue.'
Ichigo langsung merinding karena jijik. Dia tahu persis selera makanan Inoue yang buruk.
'Loh, mana Inoue dan yang lainnya?' Rukia celingukan mencari sosok teman-temannya.
'Mereka sudah pulang! Makanya jangan melamun terus!'
'Siapa yang melamun, BAKA!' kilah Rukia.
Ichigo tidak membalasnya. Dia tahu Rukia sedang gundah. Sejak pulang dari acara makan malam dengan Byakuya sikapnya aneh! Entah apa yang sudah dikatakan kakaknya itu. jadi hari ini dia akan bersikap dewasa, dia ingin menghibur Rukia, membantunya, meski itu harus mengorbankan nyawanya.
'Apa yang terjadi semalam?' tanya ichigo, 'sikapmu jadi aneh setalah pulang dari acara makan malam. Apa yang dikatakan Byakuya?'
'Tidak ada,' Rukia memalingkan wajahnya.
Ichigo mendengus kesal. Seperti biasanya, Rukia tidak pernah membagi masalahnya dengan siapapun.
'Apapun masalahmu, aku pasti akan membantumu!'
Rukia kembali menatap ichigo, kata-katanya barusan membuat hatinya terasa tenang.
'Aku ingin makan ice cream!' kata Rukia.
'Hah?' ichgo melongo. Tapi dia tidak banyak protes, dia menurut saja.
Rukia dan Ichigo duduk bersebelahan di pinggir sungai, tempat Ichigo kehilangan ibunya, sambil menjilat ice cream mereka.
'Kenapa kemari?' tanya Ichigo bingung.
'Karena tempat ini mengingatkanku padamu!'
Rukia kembali teringat hari dimana Ichigo untuk pertama kalinya bertarung dengan hollow yang membunuh ibunya. Memang tempatnya bukan disini, tapi di tempat ini lah dia untuk pertama kalinya melihat hollow, di tempat ini lah Ichigo kehilangan ibunya, dan Karena itu pula, Ichigo bertekad untuk menjadi lebih kuat, bertambah kuat hingga dia mampu menyelamatkan dirinya.
'Bicaramu aneh. Kamu deman?' Ichigo memerikasa kening Rukia.
Rukia buru-buru menepis tanan ichigo, 'Aku baik-baik saja, BAKA!'
'Aku mengkhawatirkanmu, Baka!' Ichigo mengelus tangannya.
'Ichigo, ada seseorang yang kamu sukai?' tanya Rukia tiba-tiba sambil sibuk menjilat jari tangannya yang terkena tetesan ice cream. Rukia menikmatinya sampai jilatan terakhir.
Ichigo mengerutkan dahinya, menatap Rukia, mengamatinya. 'Dari tadi bicaramu aneh! Tingkahmu juga aneh! Hari ini kamu aneh!'
'Berhenti meledekku!' bentak Rukia.
Mereka kembali terdiam.
'Sudahlah! Hari ini saja, bersikaplah baik padaku!' pinta Rukia.
'Memang selama ini aku kurang baik?' Ichigo menggaruk kepalanya bingung.
'Bisakah kita berpura-pura sebagai sepasang kekasih, sampai mata hari terbenam!'
Ichigo langsung meloncat mundur, mulutnya menganga lebar. Matanya melotot nyaris keluar. Ice cream ditangannya terjatuh ke tanah. Lalu sedetik kemudian mukanya bersemu murah. Dia buru-buru memalingkan wajahnya menatap hamparan air sungai yang mengalir.
Mereka kembali terdiam selama beberapa menit. Rukia terduduk sambil menundukkan kepalanya. Dia malu, sangat malu, entah apa yang ada di otaknya tadi sampai-sampai dia mengatakan kata-kata yang memalukan itu.
Ichigo meliriknya dari ekor matanya. Sebenarnya dia senang dengan kata-kata Rukia, Ichigo bukannya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. tinggal seatap dengannya. Melalui setiap hari bersamanya. Berbagi suka duka. Mana mungkin tidak tumbuh benih-benih cinta di hatinya. Tapi dia menahan dirinya, bagaimanapun mereka dari dua dunia yang berbeda. Ichigo ragu cinta mereka dapat bersatu kelak.
Ichigo melangkah mendekati Rukia dan duduk persis disebelahnya, saat ini saja, sampai mata hari terbenam, aku ingin menganggapnya milikku, batinnya.
'Boleh aku memelukmu?' tanya ichigo.
Rukia mengangguk malu.
Ichigo agak-agak gugup mengalungkan lengannya yang kekar ke bahu Rukia, Rukia terdiam sebentar, lalu dengan malu-malu di meletakkan kepalanya di bahu Ichigo yang lapang. Mereka saling menikmati kebersamaan ini dalam hening. Jantung Rukia berdegup kencang. Sudah lama dia memimpikan hal ini. Ichigo mengangapnya sebagai seorang kekasih.
'Lalu apa lagi yang dilakukan oleh sepasang kekasih disaat-saat begini?' Ichigo membuka pembicaraan.
'Entahlah, aku belum pernah pacaran,' jawab Rukia. Baginya bisa terus seperti ini sampai matahari terbenam saja sudah lebih dari cukup.
Ichigo mengambil inisiatif membelai lembut rambut hitam Rukia yang berkilau di bawah sinar matahari sore.
'Aku sedang berpikir akan mengajakmu kemana setelah kencan pertama kita ini,' kata ichigo.
'Kau ingin kemana?' tanya Rukia lembut.
'Banyak, aku tidak bisa memilih! Aku ingin ke taman hiburan, ke kebun binatang, jalan-jalan ke mall. Bergandengan tangan di festifal kebudayaan, makan malam romantis di sebuah restoran mewah dengan pemandangan kota karakura di malam hari, lalu…'
Rukia menatapnya lembut dan tersenyum. Tidak pernah terlintas dibenaknya sosok Ichigo yang begitu romantis.
'Kenapa kau tidak suka?'
Rukia menggeleng pelan.
'Kalau tidak suka katakana saja, aku akan menemanimu kemanapun kamu mau, bagiku asalkan bisa tetap seperti ini, aku sudah senang.'
'Aku juga, Ichigo,' balas Rukia.
Mereka masih ingin tetap seperti ini sebentar lagi, sayangnya waktu tidak mengijinkan, perlahan langit mulai gelap, waktu untuk mereka hamper habis. Rukia melepaskan diri dari pelukan Ichigo dan berdiri.
'Sudah waktunya kita pulang!' ajaknya.
Ichigo berdiri, wajahnya menyiratkan kekecewaan. Dia masih ingin tetap begini selamanya. Tapi itu keinginan Rukia, dia yang memulai dan dia juga harus mengakhirinya.
'Yah, ayo!' Ichigo berjalan didepan.
Rukia yang ada dibelakangnya tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari punggung Ichigo dari sosok ichigo. Cowok yang telah berulang kali menyelamatkannya. Rukia sendiri tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh di dalam hatinya.
Sayang semua itu tidak mungkin menjadi kenyataan. Rukia sadar bagaimana posisinya sebagai salah seorang anggota keluarga Kuchiki. Anggota yang tidak dinginkan. Sebesar apapun perasaannya, semua itu tidak pernah sebanding dengan semua pengorbanan yang dilakukan kakaknya. Bukan hal yang mudah menemukan dirinya lalu mengadopsinya dalam keluarga Kuchiki. Betapa besar tekanan yang dihadapinya. Rukia paham maksud kakaknya menjodohkannya. Dia juga paham, ini bukan kehendaknya. Tapi saat ini, hanya itu satu-satunya jalan.
Inilah saat-saat terakhir Rukia boleh mengingat sosok Ichigo di hatinya, di pikirannya dan dalam semua impian dan harapannya. Sebentar lagi dia harus belajar mencintai laki-laki lain.
'Ichigo!' panggilnya.
Ichigo menoleh. 'Apa lagi! kalau tidak cepat, kita tidak kebagian makan malam!' gerutunya.
'Aku…,' Rukia terdiam. 'Sampai disini saja. aku harus kembali ke soul society sekarang.'
'Sekarang? Kenapa tiba-tiba?'
'Ya, Nii-sama kemarin datang untuk menyuruhku pulang!'
'Jadi karena itu sikapmu seharian ini jadi aneh?' Ichigo tersenyum lega. Ternyata bukan masalah besar, batinnya.
'Pulanglah! Jangan lupa cepat kembali!' Ichigo melambaikan tangannya sambil terus melangkah maju.
'Ya, selamat tinggal Ichigo.' Katanya lirih.
Rukia berbalik. Dia tidak ingin melihat sosok yang begitu dicintainya berjalan menjauh darinya. Rukia menggigit bibir bawahnya. Bahunya berguncang. Mati-matian di menahan perasannya. Mencegah air matanya agar tidak tumpah. Sayang semua usahanya sia-sia. Dia tetap menangis tanpa suara.
'Selamat tinggal, selamat tinggal orang yang kucintai,' Rukia terus menangis dan menangis dalam kesunyian malam. Diam dalam kesedihan dan terus begitu sampai berpuluh-puluh menit. Sampai dia berhasil menghapus air mata di wajahnya, sampai matanya mengering dan dia mampu memberikan sebuah senyuman palsu.
Rukia melangkah masuk ke ruang makan. Hari ini sesuai saran Byakuya, dia memakai gaun malam warna merah tua dengan pita senada melingkar indah di rambutnya. Dengan langkah anggun layaknya seorang lady dia masuk ke dalam ruangan. Byakuya menyambutnya. Sambil mengapit lengan kakaknya, Byakuya menuntun Rukia ke tempat dimana pemuda yang hendak melamarnya menunggu. Pemuda itu berdiri memunggungi mereka. Dia mengenakan tuxedo warna hitam kelam, kontras sekali dengan rambutnya yang berwana keperakan.
'Maaf membuat anda menunggu,' Byakuya memanggil pemuda tersebut.
Pemuda tersebut berbalik.
Rukia mengerutkan dahinya, 'Anda yang akan melamar saya?' tanyanya kaget bukan kepalang. Tidak menyangka lelaki yang akan melamarnya adalah…

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58 :59 :60 :61
:62 :63

Posting Komentar

Silahkan anda komentar di bawah ini. Saya harap
tidak memberikan komentar spam. Jika ada
komentar spam dengan sangat terpaksa akan
saya hapus.
Buat teman-teman yang ingin tukaran link dengan
blog ini saya persilahkan komentar di halaman
link exchange.
Update link akan saya usahakan 2 minggu sekali
setiap hari sabtu / minggu.
Terimakasih atas perhatiannya.